Membaca Kitab wajahmu yang terpenjara
April 12, 2017
Add Comment
Oleh: Siddiqurrohman abad arz
Dari lipatan kisah yang tersusun dari sebuah cerita perjalananmu, Duhai perempuan.
kugugurkan segala lapis keangkuhan dalam kearifan auramu.
Dari rekaman teks yang tak sempat kubaca, engkau jatuh kedasar lamunan sang fajar yang kepanasan kering keronta.
Dari jejak hari aku mulai membaca sedikit demi sedikit tentang pohon yang meneduhkan buahnya di belantara sajakmu.
Tak wajah yang kau tawarkan
Tapi mahabbah yang kau hibahkan
Tak kata yang kau rencanakan
Tapi cinta yang kau berikan
Duhai perempuan, sungguh sirna bencana duka ini.
Sapa yang tidak terjadi perdebatan sengit tanpa kekasaran laksana meraba tubuh anggun pengantin dimalam pertama.
Doa yang diminta tak perlu memerintah karena tengadah bukan lomba doa untuk merebutkan hadiah.
Senyummu wahai perempuan, adalah air jernih dibawah pohon rindang yang melukis jernih lalu memancar sayup angin sepoi sepoi..
Tatapan yang tidak menusuk, suara yang tak bernafas busuk, bisikan yang tak berisik, tutur yang tak mengatur, gerak yang tak menabrak hingga pipiku membengkak. Dan semua terpetak dari karyamu yang sering memperseksi ngopiku dan sautmu yang manja.
Setelah kutemukan dirimu dalam kamus kerinduan.
Engkau membuatku jatuh cinta dalam setiap desisnya hinga kemudian cinta itu tumbuh semakin besar.
Terima kasihku teruntuk pertemuan kita di dunia ini yang mengemas harapan dan cita cita lebih cerah kemasa yang akan datang.
Catatan: Puisi ini teruntuk ibuku yang selalu meracik kerenduan dosis tinggi setiap harinya.
Kantor PC PMII Surabaya, 13-04-2017
Dari lipatan kisah yang tersusun dari sebuah cerita perjalananmu, Duhai perempuan.
kugugurkan segala lapis keangkuhan dalam kearifan auramu.
Dari rekaman teks yang tak sempat kubaca, engkau jatuh kedasar lamunan sang fajar yang kepanasan kering keronta.
Dari jejak hari aku mulai membaca sedikit demi sedikit tentang pohon yang meneduhkan buahnya di belantara sajakmu.
Tak wajah yang kau tawarkan
Tapi mahabbah yang kau hibahkan
Tak kata yang kau rencanakan
Tapi cinta yang kau berikan
Duhai perempuan, sungguh sirna bencana duka ini.
Sapa yang tidak terjadi perdebatan sengit tanpa kekasaran laksana meraba tubuh anggun pengantin dimalam pertama.
Doa yang diminta tak perlu memerintah karena tengadah bukan lomba doa untuk merebutkan hadiah.
Senyummu wahai perempuan, adalah air jernih dibawah pohon rindang yang melukis jernih lalu memancar sayup angin sepoi sepoi..
Tatapan yang tidak menusuk, suara yang tak bernafas busuk, bisikan yang tak berisik, tutur yang tak mengatur, gerak yang tak menabrak hingga pipiku membengkak. Dan semua terpetak dari karyamu yang sering memperseksi ngopiku dan sautmu yang manja.
Setelah kutemukan dirimu dalam kamus kerinduan.
Engkau membuatku jatuh cinta dalam setiap desisnya hinga kemudian cinta itu tumbuh semakin besar.
Terima kasihku teruntuk pertemuan kita di dunia ini yang mengemas harapan dan cita cita lebih cerah kemasa yang akan datang.
Catatan: Puisi ini teruntuk ibuku yang selalu meracik kerenduan dosis tinggi setiap harinya.
Kantor PC PMII Surabaya, 13-04-2017

0 Response to "Membaca Kitab wajahmu yang terpenjara"
Post a Comment