-->

KADER PMII SEBAGAI SUTRADARA SOSIAL


  Oleh : Zainullah Fikr*

Dalam kehidupan sosial, tentunya seorang manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri secara individu. Perlu adanya sebuah komposisi masyarakat yang mengatur agar sebuah kehidupan sosial bisa berjalan secara dinamis untuk menghindari adanya kesenjangan sosial dalam sebuah masyarakat. Dalam paradigma strukturalis fungsionalis, kehidupan sosial akan berjalan secara dinamis apabila masing-masing unsur sosial berjalan sesuai dengan fungsinya.

Salah satu rumusan Nilai Dasar Pergerakan adalah Hablum minan nas yaitu hubungan manusia dengan manusia. Hubungan individu sebagai manusia dengan manusia lainya adalah hubungan sosial. Ketika kader PMII menanamkan NDP dalam dirinya, maka kader PMII tidak akan buta dengan segala fenomena sosial yang terjadi dalam lingkunganya. Artinya kader PMII mengemban tanggung jawab sosial yang terjadi dilingkunganya. Sehingga kader PMII mempunyai peran dalam masyarakat. Karena memang PMII yang sifatnya sebagai organisasi kemahasiswaan, sebagai mahasiswa yang selalu berpegang pada nilai Tri Dharma Pergutuan Tinggi (Belajar, Meneliti dan Mengabdi). Kalau dalam segi history mahasiswa sebagai agent of change, agent of control maupun control sosial.

Lalu bagaimana kader PMII bisa menciptakan kehidupan sosial yang dinamis?. Disini saya mencoba menguraikan dengan pemikiran Erving Goffman yang menggunakan Teori Dramaturgi. berangkat dari drama dan teater Goffman menjelaskan bahwa suatu show atau pertunjukan, perlu adanya aktor-aktris yang berperan menggambarkan suatu kehidupan sosial dan adanya sutradara yang mengatur agar lancar jalanya pertunjukan. Ketika goffman mengambil contoh kehidupan dirumah sakit jiwa, goffman melihat perilaku yang ditentukan oleh sistem. Baik dalam rumah sakit jiwa maupun situasi sosial lainya aktor belajar untuk menghidupkan sistem, dan dalam sistem tersebut juga terdapat dominasi antara satu dengan yang lainya.

Jika ditarik dengan kehidupan sosial hari ini. Apabila masih ada kesenjangan sosial antara satu kelompok dengan kelompok lainya. Berarti ada pihak yang sudah merancang naskah sosial untuk membuat suatu pertunjukan (rekayasa sosial) dan disetting sedemikian rupa agar kehidupan sosial bisa berjalan lancar sesuai dengan naskah sosial yang mereka rancang. Yang dikhawatirkan, apabila dalam settingan sosial tersebut orientasinya untuk eksploitasi dengan tujuan untuk memperkaya pihak tertentu kemudian menindas kelas yang lemah, sehingga kesenjangan sosial dalam suatu tatanan masyarakat ini terjadi dan struktur sosial tidak berjalan sesuai dengan fungsinya

Oleh karena itu disini Kader PMII harus ambil peran dalam rangka mengembalikan struktur sosial untuk kembali stabil. Dengan Paradigma Kritis yang dimiliki oleh para Kader PMII, harusnya kader mampu membedah suatu fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat, terutama ketika kesenjangan sosial terjadi dilingkunganya. dengan Paradigma Kritisnya, kader mampu membaca naskah sosial yang direncanakan lalu tahu siapa sutradara yang telah melakukan settingan sosial dilingkunganya, sehingga kader  mampu menemukan solusi serta metode agar kehidupan sosial menjadi lebih stabil.

Untuk mengembalikan kehidupan sosial menjadi lebih dinamis tentunya bukan perkara yang mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan. Apalagi ketika mindset masyarakat sudah terkonstruk oleh naskah sosial yang lama. Berarti kader harus mampu menyusun naskah sosial sendiri untuk mengembalikan kehidupan sosial menjadi stabil. Dalam situasi yang seperti ini, kader PMII dituntut manjadi sutradara sosial kemudian merancang naskah sosial yang akan diterapkan dilingkunganya. Dan sebagai sutradara tidak bisa berjalan sendiri, tentu membutuhkan bantuan dari yang lainya. Selain merancang naskah sosial dan setting sosial, sutradara harus mampu melakukan pengorganisiran masyarakat untuk menentukan peran yang akan diambil oleh masing-masing individu dalam masyarakat guna terciptanya kehidupan sosial yang stabil, sehingga seluruh unsur masyarakat bisa berperan sesuai dengan fungsinya.

*Penulis adalah Mahasiswa UINSA Surabaya di fakultas Dakwah dan Komunikasi. Selain itu, Penulis juga aktif di Organisasi PMII sebagai ketua Rayon pada periode ini. 

Penulis bisa ditemui di rumah mayanya Facebook dan Instagram dengan nama Zainullah Fikr.

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "KADER PMII SEBAGAI SUTRADARA SOSIAL"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel