Genderisasi Perempuan dan Teknologi
December 18, 2017
Add Comment
Oleh: Dwi anggraini susanti*
Di tengah ekspansinya peran perempuan sangatlah terbatas di dunia teknologi. Dalam sejarahnya perempuan hanya di anggap sebagai pelengkap kehidupan semata, perempuan hanya di anggap sebagai budak yang harus menurut kata suami dan diam di dapur tanpa di dengar aspirasinya, pernyataaanya, maupun ide-idenya.Bahkan perempuan jaman dahulu di anggap tidak perlu untuk sekolah, tidak perlu mengetahui cara membaca dan menulis sebagaimana yang di pelajari kaum laki-laki. Mereka tidak mengetahui bagaimana keadaan dunia luar yang akan menunggu mereka dan permasalahan-permasalahan yang mungkin saja dapat terpecahkan oleh ide-ide perempuan yang cerdas dan di anggap sebelah mata oleh kaum laki-laki.
Namunun beruntunglah Indonesia, karena hadir serang sosok perempuan yang cerdas dan berfikiran lebih maju dalam menuntut persamaan derajat yang tidak pernah terlintas dan terpikr di benak kaumnya, dialah R.A Kartini. Dia adalah seorang wanita yang gigih memperjuangkan hak-hak kaumnya yang ingin di sejajarkan dengan laki-laki. Yang menginginkn aspirasinya maupun ide-idenya di dengar maupun di hargai layaknya kaum laki-laki yang selalu mendapatkan prioritas utama dalam masyarakat, yang selalu di hormati dan di hargai serta di akui keberadaanya di masyarakat tanpa di pandang sebelah mata.
Wanita kini maju dalam keterpurukan dan mendapatkan emansipasinya berkat perjuangan R.A. Kartini. Di zaman sekarang di dunia yang menyandang kesetaraan gender, seorang perempuan memiliki posisi yang sama dengan laki-laki. Namun peran perempuan masih sangat terbatas terutama di bidang teknologi. Di jenjang Universitas, jurusan teknologi informasi menjadi ladang para kaum Adam.
Perusahaan-perusahaan teknologi pun memperkerjakan jauh lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Ada berbagai macam asumsi yang mendasari stereotip itu, salah satunya karena pekerjaan IT dianggap mengandalkan logika yang diklaim lebih dimiliki oleh laki-laki. Sedangkan perempuan dianggap lebih menggunakan emosi dan perasaan dalam bekerja. Namun, menurut saya justru dengan menggunakan perasaan dan emosi,perempuan cenderung lebih detail dan rapi. Hal ini dibutuhkan dunia IT untuk mengimbangi kerja teknis. Demikian pula di bidang teknologi banyak nama-nama perempuan yang memiliki peran penting, sepereti Sherly Sanberg yang bekerja sebagai COO Facebook ataupun CEO Yahoo Marissa Mayer.
Namun tak jarang pula teknologi akan menjerumuskan seorang perempuan dan melupkan kodratnya sebagai wanita bangsa. Oleh karena itu harus ada keseimbangan agar tak ada lagi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan khususnya di bidang teknologi. perempuan yang takkan jatuh dalam keterpurukan lagi walau zaman telah berubah dan kian telah berkembang karena teknologi. Perempuan bisa sukses karena kemampuannya dan dukungan dari teknologi. Dengan teknologi, perempuan dapat menunjukkan jati dirinya dan membuktian inilah perempuan di era digital.
*Penulis adalah Mahasiswa UPN "veteran"Jawa Timur Surabaya semester satu di fakultas Pertanian. Bawel dalam mencari ilmu membuat gadis cantik ini menyukai ngopi (ngobrol pintar) dari satu tempat ketempat lain.
#Kontributor Mahasiswa Bergerak

0 Response to "Genderisasi Perempuan dan Teknologi"
Post a Comment