PMII Dan Politik Mahasiswa
April 12, 2017
Add Comment
(Ideologis dan terror kekuasaan)
Oleh : Zainullah Fikr*
Jika berbicara mengenai yang namanya POLITIK. saya lebih sepakat dengan apa yang telah dibicarakan oleh Plato (salah satu filsuf yunani klasik). Apa yang dikatakan oleh plato bahwa politikadalah suatu usaha dalam membentuk suatu tatangan dalam masyarakat. Plato menganalogikan dengan struktur tubuh manusia.dimana seorang pemimpin terdapat pada posisi kepala yang tugasnya adalah mengatur seluruh tubuh karena otak manusia terdapat pada kepala. Dan indera terdapat pada kepala guna untuk mengetahui apa yang terjadi disekitarnya, dan kepala bertanggung jawab atas tubuhnya, sedangkan militer digambarkan oleh plato bagaikan dada manusia yang bertugas melindungi seluruh oragan tubuh yang lemah yang terdapat dalam tubuh manusia. Lalu kemudian Rakyat dianalogikan seperti perut. Karena apa yang menjadi kebutuhan perut yaitu makanan dan minuman harus disediakan oleh kepala.
Seharusnya orang yang sudah berani menceburkan diri dalam dunia politik seharusnya sudah mampu memahami konsep politik. Cara jujur maupun curang itu bukan tujuan namun suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dalam politiknya. Sedangkan apa yang menjadi tujuan politik itu sendiri?. Sudah saya jelaskan pada paragraph awal yang mengacu pada pemikiran Plato.
Saya salah satu penduduk kampus yang aktif dalam Organisasi PMII. Melihat hari ini PMII besar dikampus tempat saya tinggal tentunya mau tidak mau PMII mempunyai peran vital dalam dunia kampus. Apa yang terjadi didalam kampus PMII mempunyai ikut andil didalamnya. Ini artinya dalam mengatur struktur masyarakat dikampus PMII mempunyai peran pula. Berarti PMII ini juga salah satu pelaku politik dalam mengatur susunan masyarakat kampus, karena memang sudah menjadi tanggung jawab seorang kader yang dididik di PMII kemudian mengimplementasikan dalam dunia kampus. Kalo ditanya mengapa PMII berpolitik?. Jawabanya karena itu tanggung jawab, kader PMII tidak boleh membiarkan kondisi kampus yang kian carut-marut hari ini.
Namun yang saya sayangkan banyak pengaruh eksternal maupun internal yang mencoba menggoyahkan pemahaman terhadap PMII dalam mengatur struktur masyarakat kampus. Contoh dari pengaruh eksternalnya adalah banyaknya mahasiswa yang beranggapan bahwa PMII dikampus adalah organisasi yang rakus akan jabatan. Sehingga seluruh ledding sector lembaga kemahasiswaan yang berada dikampus seakan-akan harus dikuasai oleh kader PMII, mulai dari yang terbawah HMJ/HMP sampai yang paling tinggi DEMA Universitas. Sehingga citra PMII sebagai organisasi Ideologis seakan-akan tercoreng dan berganti peran menjadi organisasi Politis (semacam partai politik). Itulah pengaruh eksternal terhadap pemahaman PMII selama ini.
Untuk pengaruh Internal terhadap pemahaman PMII selama ini memang tak dapat saya pungkiri pemahaman kader selama ini tidak jauh beda dengan pemahaman mahasiswa yang non PMII. Dimana kader hari ini masih yang beranggapan bahwa dengan ikutnya di PMII bisa menjabat di strukturlembaga kemahasiswaan kampus baik HMP/HMJ, Dema F, Sema F, sampai Dema U. hal seperti ini bisa saya katakana telah menjadi Indikator Ideologis seorang kader, dan masalah seperti ini memang menjadi tanggung jawab penuh terhadap pengurus aktif yang memang berkewajiban terhadap Kaderisasi di PMII. Terutama saya
Pada suatu hari ketika saya dipamiti oleh seorang kader yang ingin ikut kontestasi pada pemiilihan ketua HMP. Pada saat saya memahamkan kembali artinya berpolitik terhadap kader PMII. Sebelumnya saya Tanya pada kader tersebut Untuk apa kamu mencalonkan diri dalam pemilihan ketua HMP?. “Lantas apa yang akan kamu lakukan setelah menang dalam Pemilihan?. Kalo hanya kemenangan yang kamu cari mending tidak usah!”.Lalu jawaban kader tersebut kepada saya “saya ingin memperbaiki HMP untuk jadi lebih baik cak, ini permasalahan HMP saya hari ini (sambil menunjukan daftar masalah kepada saya)”. Lalu saya Tanya lagi “apakah untuk memperbaiki HMP harus menjadi ketua?”. Jawabnya“cak… permasalahan seperti ini hanya dapat diselesaikan dengan kebijakan. Dan orang yang mempunyai hak untuk membuat kebijakan adalah ketua”.Sebelum saya mengiyakan kepada kader tersebut saya memahamkan kembali artinya perpolitikan terhadap kader PMII dan Alhamdulillah kader tersebut terpilih dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai ketua HMP.
Penjelasan saya tidak hanya saya tujukan terhadap kader yang mengikuti kontestasi politik kampus, Melainkan kepada kader lainya. Dan tidak hanya sekali dua kali saya mengatakan pada kader “jika kalian menjadi pemimpin dikampus hanya untuk membesarkan PMII, kalian keliru, ketika kalian menjadi pemimpin dikampus kalian harus tahu siapa dulu yang kalian pimpin, PMII akan tetap besar walaupun tidak ada kalaian, namun sebaliknya apakah kalian bisa besar tanpa PMII?”. Hal tersebut saya lakukan guna penanaman ideology terhadap kader dan pendampingan terhadap kader saya lakukan terus ketika memimpin di lembaga mahasiswa. Tak jarang kecurigaan mahasiswa lainya terhadap saya mengenai kepentingan saya. Ya saya tegaskan saya memang mempunyai kepentingan tapi kepentingan saya bukan terhadap golongan tertentu terutama terhadap PMII, kepentingan saya ya untuk mahasiswa lainya, karena memang tanggung jawab saya sebagai kader PMII.
Jika hari ini masih banyak yang menggunakan PMII sebagai sandal untuk naik tahta maka ke-PMII-an nya perlu dipertanyakan, dan prosesdi PMIIjuga tanda Tanya. Karena saya tegaskan PMII basis Ideologis bukan basis politis.
SALAM PERGERAKAN!
*Penulis adalah Ketua Rayon Dakwah Komisariat Uinsa Cabang Surabaya

0 Response to "PMII Dan Politik Mahasiswa"
Post a Comment