Meletakkan rasa pada bentuknya Lalu, menakar imajenasi.
June 03, 2017
Add Comment
![]() |
| Foto by Fadiel PMII Unitomo di acara PKD Unitomo |
Oleh: Siddiqurrohman Abad Arz*
Dalam kesempatan ini ingin saya jelaskan sedikit tentang dua baris tulisan yang saya pajang dijudul tulisan ini karena ketika saya menyampaikan di ruang diskusi saya katakan itu motto saya. Yang banyak saya temui hanya respon tawa atau sekedar tepuk tangan, tak lebih.
Baiklah, kalimat itu sebenarnya sebuah kritik sosial dimana dengan rasa yang sering diberikan oleh kita dalam bentuk icip, ucap, maupun sikap tidak kemudian diposisikan pada pemahaman takaran yang pas sehingga multi tafsir yang dipersepsikan orang lain tidak bisa dipertanggungjawabkan tetapi cenderung sebatas diperdebatkan. Sabagi siperasa dan pemberi rasa tidak kemudian mencapi kebaikan dari kebenaran masing masing persepsi yang diberikan. Singkatnya, berikan persepsi pada kebutuhan situasi dan kondisi.
Menakar imajenasi, lebih kepada nalar pemikiran yang bisa kita naikkan satu tingkat diatas kebenaran persepsi yaitu kebaikan dan keindahan. Sosial kita banyak menumpuk dengan teks teks yang hanya mampu dibaca sekilas tanpa nilai kritis dan nilai konteks sehingga hanya menjadi sampah. Membusuk, baunya membuat lingkungan tidak romantis dan harmonis. Jelasnya, Kemustahilan banyak terjadi jika ada kebenaran tanpa kebaikan.
Berikan rasa apapun yang ingin kita berikan tetapi bukan sekedar, modus, apatism. Tetapi bentuk yang menjadi target harus sudah dianalisis sedemikian rapi sehingga orang lain tak hanya memandang itu sebuah kebenaran tetapi disitu juga ada kebaikan dan keindahan.
Cak nun pernah bilang disalah satu pertemuan majlis maiyahnha "Apapun yang disampaikan dengan kebaikan dan keindahan maka akan sulit menjadi perdebatan dan peperangan karena kebenaran bisa lebih khusus dipersepsiakn oleh masing masing orang" kemudian beliau mencontohkan salah satunya yang dilakukan oleh presiden jancukers yaitu Sujewo tejo yang penuh dengan krititikan, ocehan dan misu misu di akun media sosialnya terutama di Twitter tetapi polisi, aparatur pemerintah termasuk presiden RI pun tak juga mau mengahakiminya. Itu karna rasa yang dalam, cinta yang suci, dan karena atas nama keindahan yang diperankannya sehingga bisa masuk di bentuk takaran yang pas, sedap dan nikmat, hehe.
Marilah kita senantiasa berikan rasa yang terdalam katanya vokalis NOAH itu. Karena akan banyak menemukan bentuk yang indah diakhir ceritanya, Amin. Tetapi, jangan lupa lengah untuk tidak stagnasi dalam kelimuan dan pengetahuan yang kita punya. Untuk itu terus berimajenasi untuk memberisan isi, intuisi, ilustrasi dan observasi pada gudang keilmuan kita sehingga tidak kosong dan lemah dalam wacana maupun tindakan kita.
(Kontributor Majelis Mahasiswa Bergerak)
Surabaya, 03-06-2017

0 Response to "Meletakkan rasa pada bentuknya Lalu, menakar imajenasi."
Post a Comment