-->

Melawan Hoax melalui Budaya Literasi .


Oleh: Muhammad Abbas*

Media sosial merupakan akses yang mempermudah kegiatan manusia, Karena memberikan pelayanan yang terbilang cukup mempermudah saat interaksi dan komunikasi. Dari awalnya rumit menjadi mudah, berat menjadi ringan, dan sulit menjadi gampang. Semua karena hadirnya media sosial yang setia melayani aktivitas manusia.

Media sosial juga sebagai alat informasi yang setiap saat menampilkan bermacam informasi, politik, budaya, pendidikan, sampai kriminalisasi. Sejatinya media sosial sudah menjadi representasi siaran televisi dan radio di era globalisasi ini. Karena konten informasi yang dimuat persis dengan berita yang ada di dalamnya.

Pelayanan yang dipermudah oleh media sosial merupakan bagian dari sisi positif. Namun tidak dapat dipungkiri, dampak negatifnya berjalan secara proporsional. Oleh karena itu, diperlukan memperhatikan muatan informasi yang diekspose, sebab tidak hanya postingan informasi positif yang beredar, melainkan juga berita "bohong " yang tendensinya pada  perpecahan.

Dampak negatif dari pada media sosial, sebagai alat untuk menggerogoti integritas seseorang, kepercayaan, hujatan, speec hate, dan kebencian. Akhir akhir ini media sosial sudah jauh dari idealnya, melainkan cenderung pada kepentingan dan pencitraan, sehingga fantage informasi tidak lagi dipercaya sebagai media profesional.

Menjalarnya kebencian dan perpecahan melalui media sosial, karena faktor minimnya perhatian konsumen dan produsen informasinya. Ironisnya, pengguna membagikan berita tanpa didukung informasi kolektif dari sumber media lain, asal nge-like,nge-share dan nonton untuk yang berbentuk video. Parahnya, disebar luaskan untuk menyerang pada oknum tertentutertentu atau sekedar eksistensi buat si akang "Google AdSense" , lalu secara spontanitas mendapat reaksi keras dari pihak pendukung maupun oposisi.

Media sosial yang sering digunakan berselancar menyebarkan berita hoaks adalah Facebook. Facebook sering kali menampilkan berita tanpa memperhatikan kualitas informasi publiknya. Sehingga yang awalnya dibentuk untuk kemaslahatan, malah dijadikan akses pemicu kemodarotan.

Maka kita harus selektif pada informasi, agar tidak mudah terprovokasi. Dengan perlu memperhatikan informasi yang  cenderung bersifat mendistorsi atau mengedukasi, agar dapat memilih dan memilah informasi.

Hoax sering kali di kemas dengan konten informasi yang mengandung banyak simpati, tapi disisi lain menyudutkan pihak lain demi kepentingan pribadi. Karena memanh hoaks tidak ada iktikaq memperbaiki, melainkan menghancuri.

Informasi baru yang sudah tersebar, namun tidak jelas sumbernya, perlu diperhatikan, untuk tidak asal suka, dan membagikan. Karena dengan satu like dan share sama halnya meng-amini gerakan hoaks. Lalu bagaimana jika informasi yang dil ike dan share bagian dari strategi picik kaum teroris dan separatis.?  Berapa dosa yang di tanggung si likersnya yang telah mendukung tindak kejahatan tersebut. Oleh karena itu, butuh memberikan penyadaran pada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang tidak jelas sumbernya. Salah satunya adalah budaya Literasi.

Literasi menjadi tabir efektif yang mampu mengurangi sikap tendensi dan mudah terprovokasi. kegiatan positif ini  konsisten memberikan pengetahuan, wawasan, cakrawala pengetahuan, dan  sikap lebih terbuka dalam melihat persoalan.

Kegiatan Literasi menanamkan carakter bulding pada pembaca, sehingga tidak mudah menjastis tanpa mengetahui akar perkara. budaya Literasi tidak hanya menjadi penangkal bahaya hoaks, melainkan terdapat visi menciptakan generasi berkaraekter.

Dengan minimnya gerakan Literasi, di khuatirkan generasi yang akan datang  bukan lagi zaman cybercriem, tetapi dalam bentuk gerakan nyata yang menyuarakan kebenciam-kebencian pada kelompok tertentu. Karena transformasi perkembangan digital tidak menjamin keutuhan persatuan. Namun sebaliknya, sebagai alat kepentingan kepentingan individual.


Ada banyak langkah untuk menumbuhkan minat literasi, sebagai upaya mendidik generasi yang dipersiapkan untuk menolak hoaks, diantaranya:

1.Mengkampanyekan pentingnya membaca. Langkah awal ini butuh metode menarik saat memperkenalkan pentingnya membaca, bisa dengan cerita dan motivasi yang mengarah pada manfaatnya membaca.

2. Membiasakan diri membaca. Setiap hari mengeluangkan waktu untuk membaca, langkah ini tidak butuh waktu lama, tetapi membutuhkan keseriusan dan konsisten. Agar semakin tertanam kecintaan pada literasi.

3. Dekat dengan buku. Membiasakan diri bersama buku dimanapun dan kapanpun. Karena manfaat dekat dengan buku kecenderungan membaca akan meningkat. Ironinya pelajaran saat ini siswa maupun mahasiswa lebih dekat pada gedget dari pada buku, kebiasaan ini lebih disayangkan lagi, jika gadget hanya sebatas alat komunikasi dan interaksi.

4. Diskusi. Dengan topik yang mudah dipahami persoalannya, maka diskusi akan mengalir, sistematis, dan objektif. kelebihan dari pada diskusi menambah ketajaman nalar berfikir kritis. Hasilnya, diskusi bagi yang sudah melakukan secara kontinyu secara bertahap akan menjadi keharusan. Dimana ketika melihat manfaat dari hasil membaca ternyata tidak stagnasi hanya sebatas pengetahuan dengan adanya diskusi.

5. Menulis. Menulis bagian terakhir dari aktivitas ilmiah, untuk menuangkan hasil pemikirannya dalam bentuk karya, tulisan yang bagus tentu lahir dari kebiasaan membaca, karena karya bisa disebut ilmiah kalau sudah menuangkan banyak  referensi bacaan.
Dengan kegiatan Literasi ini, tentu out put yang dihasilkan orang menjadi tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu bengis yang menjatuhkan , karena sudah  dibekali kapabelity penilaian untuk menangkal kepentingan hoaks yang tersebar.

*Penulis adalah Mahasiswa Aktif Fuakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya. 
(Kontributor Mahasiswa Bergerak) 

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Melawan Hoax melalui Budaya Literasi . "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel