Hoaks Para Calon Pemimpin dipanggung Pilgub 2018
November 03, 2017
Add Comment
Oleh: Muhammad Abbas*
Benar dalam logika kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Jika pernyataannya A maka kenyataan A. Tanpa ada kontradiksi yang terjadi sesudahnya. Lalu kenapa pernyataan yang bertentangan dengan kenyataan dalam kampanye perpolitikan masih dipercai?
Hakikatnya, pertanyaan ini menanyakan pada kesehatan mental masing-masing orang. Bagaimana tidak, janji dalam kampanye sebatas janji yang banyak tidak ditepati, tapi masih saja dipercai. Apa lagi mendapat komisi bagi yang memberikan hak suaranya. Pertanyaan itu bukan kritik bagi pelaku tertentu, melainkan autokritik bagi setiap individu. Pasalnya, pendukung yang memberikan hak suara adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Lalu kenapa masih mengharapkan terealisasinya janji, padahal memilih atas dasar transaksi bukan kapasitas diri pemimpin?
Momentum pemilihan pemimpin merupakan ajang bergengsi bagi timses maupun calon sendiri untuk mengumbar janji demi terwujudnya mimpi. Bahkan janji absurd untuk direalisasikan masih sering terdengar di panggung kampanye. Pembangunan infrastruktur merata, membangun lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, kebutuhan pokok murah, biaya rumah sakit gratis, biaya sekolah gratis. Tetapi ketika terpilih bukan segera merialisasikan janji, melainkan merangkai diksi yang tepat sebagai alibi yang dapat dimaklumi.
Janji dalam kampanye bagaikan hal yang tabu. Bagaimana tidak, dengan janji kampanye bisa berjalan meriah, apalagi dikemas hiburan dengan mendatangkan artis terkenal. Cara-cara sperti ini amat efektif menghadirkan banyak masyarakat untuk mendengar janji-janji bulshit nya. Dengan gagah sang calon menyampaikan banyak pesan untuk membakar semangat masyarakat agar memilihnya.
Ironi yang sangat disayangkan pada pemandang ini, adalah terlibatnya tokoh agama dengan mengenakan sorban dan baju khasnya. Padahal realita dalam kampanye yang terekspose dipublik, sering kali menampilkan hal-hal yang tidak layak didukung oleh para tokoh, misalnya menghalalkan segala cara untuk memenangkan dalam kompetisi pemilihan. Sedangkan kehadiran para tokoh agama di tengah-tengah gejolak konflik politik tidak mampu menjadi penengah, lantas apa tujuan tokoh agama hadir atau dihadirkan ditengah-tengah orasi kampanye?
Saking sensitifnya dalam perpolitikan, sering kali melahirkan asumsi debatebel terhadap kebaikan calon pemimpin. Asumsi ini lahir karena ada beberapa indikator kuat sebagai pendekatan kepentingan. Pertama, agar masyarakat memilihnya sebagai pemenang dalam pencalonan, padahal sebelum-sebelumnya bagaikan tertelan bumi. Kedua, pencitraan, untuk menjaga reputasi dimata masyarakat, sehingga masyarakat menilai mampu menjadi inisiator perubahan. Ketiga, tidak lain dan tidak bukan hanya ingin menggalang dukungan sebanyak - banyaknya. Hal serupa hampir dilakukan oleh setiap calon pemimpin. Maka, pada akhirnya kembali kepada hati nurani rakyat yang paling layak untuk memimpin.
Namun sayang seribu sayang, sebagian masyarakat tidak berfikir logis terkait memontum ini, karena masih tetap memilih calon pemimpin yang paling banyak mengeluarkan uang dari pada memberikan banyak peluang perubahan.
*Penulis adalah mahasiswa UIN Surabaya

0 Response to "Hoaks Para Calon Pemimpin dipanggung Pilgub 2018"
Post a Comment