-->

Bela Islam, Bukan Aksi 212 Dan Politisasi Puisi Menuju 2019




Agama menjadi candu, saat Agama menjadi soal menyoal subjek buta hingga menjadikannya paling Agamawan. Tuhan tidak perlu dibela karena dia maha segalanya (gus dur), benar adanya karena Agama mengajarkan pesan pesan damai dan ekstrimis memutarbalikkannya, lanjut Gus Dur. Itu fakta hari ini !

Petaka Akhir Zaman, iya ini tentang kehancuran akhir dari segalanya. Tanda-tanda itu pernah disampaikan oleh Gus Mus pada April 2015 lalu, salah satunya media online dikuasi oleh orang yang kurang faham Agama. Ingat betul pesan beliau bahwa, yang menghina Agamamu tidak merusak Agamamu justru yang merusak Agamamu adalah prilakumu yang bertentangan dengan ajaran Agamamu. Di media sosial, masyarakat awam "kaget" terhentak batinnya ketika sedikit saja islam dalam tanda kutip "diposisikan" sebagai yang tertindas. Atas nama Islam tak segan segan cacian dan bendera perang di kibarkan, tak sedikit melahirkan peperangan dibanyak negara di dunia. Negara hancur, masyarakatnya susah dalam berpenghidupan. Itu realitasnya bukan? Yang memegang gong permusuhan kehidupannya tercapai dengan aliran dana politik dari rival pejabat tingginya (Presiden/Elit Pengusaha).


Sekarang saya ingin sedikit menganalisis "endek endekkan jare wong jowo" prihal politik pas ditahun politik dimana paradigma itu dibangun saat ini. Perebutan hak demokrasi di tahun 2019 untuk menduduki tampuk kekuasaan sebagai presiden dan wakil presiden sudah ambil manuver dari sekarang, agama yang terlihat jelas banyak dipakai sebagai virus hegemoniknya. Virus Agama sedang berselancar mencari momentum dan mengolahnya dengan bumbu bumbu persepektif sempit yang dimunculkan dari alumni 212, yaitu pemimpin paling islam menuju hastek #gantipresiden2019.


Virus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri (Wikipedia). Sejak Aksi 212 menemukan momentum di pilgub DKI, virus itu menjalar dengan perlengkapan seluler untuk mereproduksi di sosial kultur ummat islam dengan tajuk "Aksi Bela Islam", 
perlu saya garis bawahi dalam hal ini saya tidak bermaksud mendiskreditkan Agama dan Ulama namun lebih kepada realitas yang berubah wujud hari ini semakin tidak jelas dan bias dari tajuk sebelumnya. Berjilid-jilid telah dilakukan dengan menggunakan mediasi sosial media untuk meraup massa, ummat terpikat totalitasnya dengan ajakan mengatasnamakan Agama dan seruan soliditas umma islam.

Sejak itu pula, kasus politis dalam tubuh madzhab 212 terungkap satu persatu, personel satu dengan yang lainnya berseteru hingga beredar kabar dimedia nasional mereka sudah pecah menjadi beberapa bagian tertentu. Ustad ustad medsos yang mondok di google bermunculan mendadak jadi panutan karena dibrending orang berduit pemegang media nasional yang bernafsu mengganti presiden tadi, surve menyebutkan kalangan remaja adalah target oprasinya yang membanjiri dunia maya dengan hpnya. Perseteruan pun bergemuruh, sedang pihak hegemonik terus memberikan prestasi 212 sebagai keberhasilan solidnya ummat islam, berhasil dihegemonik semata iya !

Hari ini kasus puisi yang dibawakan oleh ibu Sukmawati soekarnoputri sedang diributkan, tak terhitung untaian kebencian dan cacian di putar meskipun masih terlihat kolot kosa katanya alias kurang kreatif dengan kata lama "Penista Agama". Penegak hukum dalam kasus seperti ini menjadi nomer kedua, diselingkuhin oleh klem semata dan mengadili sepihak. Proses tabayyun (klarifikasi) ditepikan bahkan netizen pihaknya berharap ditiadakan, sehausnya misal dalam konteks diksi yang kita yakini salah bisa kepada ahli bahasa, dalam konteks menyinggung islam bisa ke MUI/Ulama, dalam konteks pidana bisa kepada Polisi, dalam konteks sastra / puisi bisa kepada seniman dan budayawan meskipun secara makna sudah disampaikan bahwa Ibu sukma berusaha jujur tentang kondisi budaya kita hari ini yang mulai luntur oleh karena budaya arab yang diadopsi sebagai agama.

Sebagian golongan mulai berkonsolidasi termasuk para politisi partai yang saya dengar di televisi. Cap Produknya adalah "Kafir dibawah pekik Kalimat Takbir". Aksi 212 sudah dipersiapkan dalam kasus ini, masyarakat awam di dampingi khutbah ustad media sosial merebut keyakinan ummat dari kyai dan ustad yang istiqomah mengajar di pesantren dimana bisa jadi tidak sempat 24 jam memegang hp untuk bertausyiah di media sosial. Wow, ini kesempatan emas kata mereka !

Para penyair jahiliyyah saat melontarkan syairnya bahwa islam Agama nya orang gila, Al Quran itu karangan Muhammad semata yang sedang ngigau wahyu Tuhan, lantas apakah Nabi Muhammad mencaci dan menghinakan orang tersebut ? Tentu Tidak. Islam hadir itu sebagai rahmat, bagi yang belum faham difahamkan, yang salah dimaafkan, yang belok diluruskan, dan termasuk yang belum beriman di islamkan bukan dijauhkan.

Setelah berhasil menyiapkan aksi 212, sang pemegang konsep menyiapkan konsep untuk mengganti presiden dan memungkin berimbas pada calon Bupati, Gubernur, Wali kota, DPR sebagai sasarannya. Semoga tidak, jika hajat mereka untuk Negara Islam perlahan akan hadir sebagai pengganti pancasila, kemudian kaum beragama berperang karena kaum islam telah membenci kaum agama yang lain. Jadi, NKRI harganya menjadi Mati. Mau? Silahkan, kan hidup di zaman akhir memang sedang menunggu kehancuran !

Mata rantai Djajjal (internet) berkuasa atas agama seseorang. Budaya yang disampaikan dalam puisi baik tidaknya bukan di kaji, di rembuk, di urus oleh penegak hukum, oleh seniman yang ahli dibidangnya tapi justru dihakimi oleh orang yang mengatasnamakan dirinya paling islam. Tak berlebihan kalau saya katakan bahwa Budaya mempunyai Agama. Bukan Agama merawat hal apapun termasuk budaya lokal dengan Akulturasi budaya. Sejatinya menurut saya, Agama islam yang lahir di budaya arab bukan harus dibawa ke Indonesia dengan budayanya namun hanya faham dan ajaran Agama nya, agar tidak terjadi kontradiktif, diskriminatif, dan diskultur di sebuah tempat yang multikultural.

Dengan ini aksi 212 hemat saya sangat tidak diperlukan, khususnya oleh masyarakat awam yang hanya tergerak oleh simbol islam tapi tidak melihat realitas yang akan terjadi di hari kemudian. Islam tanpa ilmu itu buta bukan? Mari kita kawal kasus per kasus di negeri ini dengan koredor hukum sebagai jalan dari perseteruan, konsistensi hokum harus dukung untuk ditegakkan, jangan sembunyi tangan jika dari pihak alumni 212 sendiri melakukan seperti beberapa kasus berlalu. Masyarakat awam pun jangan mau ditakuti oleh dugaan rezim kejam, kotor dan jahat, jika hanya mendengar dari katanya ke katanya. Kalaupun Rezim itu pasti ada, saya yakin tidak ada rezim perkasa berkuasa di negeri ini mengalahkan kuasa rakyat, se kejam apapun, se diktator apapun, sekuat apapun. Yang penting, kita tidak kemudian mengahdapi persoalan dengan sumbu pendek, emosi meledak,  tapi kemudian harus merawat tradisi budaya kita sedari dulu yang mengedepankan etika, kesantunan, kuatkan silaturrohmi, musyawarah, diskusi, kemanusiaan, kejernihan berfikir, perdamaian sosial, kesejahteraan sosial, persatuan dan kesatuan dengan tidak melihat sesuatu dengan mata sepihak, mengutamakan identitas pribadi, suka dan Agama.

Tambahan, agar tidak mudah pusing kepala, sepaneng, panas otak, emosi menguap, kagetan, tegang saat menemukan persoalan. Segera larikan ke kamar mandi, ambil wudluk, sholat kemudian lanjutkan Ngopi ke warkop. Jika malam, sangat tidak dianjurkan minum es sachet kecuali ngopi. Usahakan jangan berangkat sendirian agar ngopinya bisa menjadi "Ngobrol pintar ditemani kopi saat diskusi" disingkat NGOPI DISEK.

* Siddiqurrohman Abad Arz.
(Santri PMII Surabaya)



CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Bela Islam, Bukan Aksi 212 Dan Politisasi Puisi Menuju 2019"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel