-->

Eksistensi Teodisi Dalam Simbol Kehidupan Manusia Teologis Dalam Era Modern


Manusia teologis modern merupakan manusia yang telah mendapatkan campuran ilmu tentang agama yang terkontaminasi oleh hal baru yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran baik keyakinan umat beragama maupun yang ateisme. Pada intinya dalam hal kemasyarakatan dapat di temukan kehidupan yang sempurna akan agama maupun yang kurang dalam persoalan keagamaan, ada juga yang sempurna dalam beragama namun rancu dalam perkembangannya.

Dari saya yang meneliti tentang kehidupan teologis lebih mengarah terhadap permasalahan teodisi yang di maksud masyarakat modern sebagai titik temu keakraban hamba dengan tuhannya, yang artinya manusia sekarang lebih cenderung menginginkan yang instan baik dalam meminta maupun dalam persoalan keadilan yang dimaksudkan tiap tiap dirinya. Masalah yang dihadapi ialah tentang teodisi yang terasa mengganjal pada era ini, mereka menganggap teodisi yang di berikan oleh tuhan kurang berkenan atau kurang adil.

Kenyataannya bahwa mereka ber-eksistensi saja menunjukkan bahwa ada-nya dirinya merupakan gambaran dari ada-nya hubungan Aku­-Engkau, teodisi yang seperti itu rupanya belum sepenuhnya di pahami oleh masyarakat umumnya sekarang, namun mereka memilih untuk lebih bersifat konsumtif tanpa tahu lebih tentang kehidupan dan aturan aturan yang sudah di berlakukan dalam hukum alam serta aturan yang di sepakati. Peran dari negara juga yang relevan terhadap tekanan keadilan yang di bimbangkan oleh masyarakat modern, sering kali mereka mengambil kesimpulan yang di campur adukkan 8 teodisi duniawi dengan teodisi murni yang di nash kan tuhan.

Manusia teologis merupakan manusia yang dibebani dengan dogma-dogma tentang aturan kehidupan yang merancang tatanan keyakinan manusia. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa manusia teologis tak terlepas dari apa yang dinamakan ketuhaanan maupun aturan-aturannya. Manusia secara individual mampu untuk mengetahui keberadaannya dalam menata budi pekerti luhur yang diajarkan dalamnash, jadi kemampuan itulah manusia selayaknya berfikir tatanan teologi yang di ketahui serta di kaji dalam bentuk yang akurat terhadap keyakinan yang dianut, serta meghasilkan sesuai yang di harapkan oleh setiap eksitensi tologi individu.

Dalam persoalan modern ini, masyarakat disajikan berbagai problem teologis yang membuat skeptis, akibat perkembangan idealisme yang semakin bervariasi dan beragam argumentasi, sehingga membuat manusia yang awalnya mempunyai i’tiqad yang teguh menjadi skeptis. Seiring perkembangan era yang begitu pesat dan juga perkembangan IPTEK yang canggih, umat beragama secara tidak langsung terdesak oleh hal tersebut. Perkembangan modern mengacu umat teologis tidak berdiam diri sebagai patung yang keras terhadap pendirian layaknya (Agnostisisme), namun tokoh teologis mengambil langkah mudah untuk mengikuti zaman yang dianggap lebih efisien untuk perkembangan umat beragama.

Hal kemodernan tersebut secara diam diam mengancam segi psikologis agama, dimana jika tidak menghendaki adanya perkembangan zaman maka akan terbelenggu dalam keterbelakangan, namun sebaliknya, jika di paksakan mengikuti perkembangan zaman, secara tidak langsung menyerap segala informasi yang yang abstrak atau belum diketahui kebenarannya dan bisa jadi pemikiran umat beragama akan melangkahkan argumennya yang berlawanan dengan ketentuan agamanya. Sebagai tindak lanjut dari hal tersebut kaum teologis sedikit demi sedikit merangkak kepada keyakinan dan teodisi murni yang jelas jelas sudah di nash-kan.

Permasalahan teodisi dalam masyarakat modern

          Semakin majunya perkembangan ilmu pengetahuan menjadikan lunturnya keyakinan terhadap stigma-stigma teologi. Masyarakat semakin mengedepankan rasionalitas melalui penelitian-penelitiaan yang dianggap benar adanya melalui indera sehingga nilai keimanan semakin luntur. Ilmu pengetahuan lebih mengedepankan sesuatu yang dapat dicerna oleh indera sedangkan keyakinan yaitu kemantaban hati  yang belum tentu kebenarannya. Maka ilmuwan modern kebanyakan membantah tentang suatu yang belum tentu kebenarannya melalui penelitian lebih dalam.

Sebagai sitem berfikir rasional, ilmu pengetahuan menjadi sebab terdalam dari lenyapnya banyak kepercayaan tradasional secara umum dapat dikatakan lenyapnya kepercayaan tradisional, yakni sebagai berikut: 1.pengamatan lawan otoritas, 2. Otonomi dunia fisik, 3. Disingkatnya konsep tujuan, 4. Tempat manusia dalam alam.[1]

            Disini posisi tuhan hanya terletak pada suatu keburukan yang menimpa manusia tersebut sehingga tuhan hanya dijadikan bapak mistis yang dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan pribadi manusia. Manusia pun menuntut atas keadilan tuhan sebagai pencipta segalanya terkhusus tentang perizinan adanya terhadap keburukan alam maupun moral. Namun pada saat manusia tersebut mendapat suatu kebahagiaan tertentu mereka hanya berfikir bahwa hasil dari kebahagiaan tersebut terjadi atas dirinnya sendiri tanpa memandang kembali terhadap tuhan. 

Seperti contoh: anak kecil yang berlari kemudian tersandung batu, dia hanya akan meminta pertolongan pengobatan pada sang ayah karena kakinya terluka. Karena yang dia kenal hanya sang ayah yang dapat melakukan pengobatan tersebut. Semakin menjadi dewasa akan semakin mengenal siapa itu tuhan, namun kasusnya tidak jauh berbeda. Tuhan hanya dimintai pertanggungjawaban atas keburukan yang menimpanya karena ia sudah tak mungkinn meminta kepada yang ayah lagi, sehingga tuhan diposisikan sebagai bapak mistis.

Padahal suatu keburukan tidak akan pernah muncul disaat manusia tersebut memiliki nilai-nilai ketuhanan di dalam dirinya. Munculnnya suatu keburukan karena hialngnya nilai-nilai ketuhanan didalam dirinya. Dari sinilah pengaruh berkembaangnya IPTEK dalam teodisi masyarakat modern.

*Fenomena teodisi*

            Dari pendekatan fenomenologis yaitu berusaha untuk menjadi bagian di  dalam dunia konseptual para objek yang diteliti sehingga dapat mengerti apa dan bagaimana penerapan-peneerapan masyarakat teodisi sehari-hari. Tokoh-tokoh fenomenologis pada awalnya dipengaruhi oleh Edmunf Husserl, Alfred Schulz dan Weber. Cara memahami fenomena teodisi adalah dengan menganggapnya sebagai reaksi terhadap pendekatan-penndektan historis, sosiologis dan psikolgi.[2] Yang di maksudkan ialah bagaimaa manusia memandang objek dari sudut pandang pertama dan yang dirasakannnya dalam penganlaman pertama, kebanyakan orang dalam masa modern ini menyalah gunakan kalimat teodisi dalam berbagai problem duniawi, seperti halanya permasalahan politik dimana pada saat manusia merasa menjadi korban politik yang akhirnya merenggut kekuasaan yang di kehendaki lari kepada teodisi murni yang seharusnya bukan urusan tuhan sendiri, melainkan urusan manusia dengan keadilan yang di muat dalam dunia itu sendiri.

Edmund husesel dalam teori intensionalitas menjelaskan bahwa kesadaran manusia yaitu ketika ia berhadapan lansung dengan yang apa yang dialami dan disaksikan oleh indra manusia serta pengalaman pertama yang di rasakan manusia.dari teori tersebut dapat di letakkan kata teodisi yang berdasarkan apa yang menjadi urusan tuhan yang seharusnya tidak bisa di ganggu gugat, misalkan, manusia memperoleh kehidupan layaknya kehidupan manusia yang lain, dan akan mati pada waktu yang di tentukan oleh tuhan. Hal yang demikian yang menjadi obyek teodisi murni yang harus selalu di pertimbangkan oleh manusia teologis dan bukan malah mencampur adukkan teodisi murni kedalam hal yang bersifat keduniawian.

*Catatan Akhir*

Teodisi dalam umat beragama memang menjadi figur permasalahan dalam era modern ini, di karenakan maraknya tokoh idealisme yang membuat rancangan baru tentang pemikirannya, yang secara tidak lansung akan mempengaruhi kehidupan masyarakat sebagai penganut perkembangan zaman. Bukan hanya pemikiran, namun juga teknologi yang semakin pesat lajunya membuat lapisan masyarakat tergugah emosionalnya dalam mengargumenkan serta terapan terapan yang menurutnya ialah perkembangan zaman dan harus selalu di ikuti.

Berbeda antara manusia teologi klasik dengan teologi modern dari segi pandang peradapan dan kemajuan erannya, anggapan masyarakat teologis banyak menghasilkan hidangan hidangan konsepsi yang di ambil dari sumber yang belum jelas, yang justru akan mengakibatkan kesalahan ketika mereka menemukan keganjalan dalam aturan aturan atau dogma dogma yang sudah di mutlakan.

Akibatnya akan mengganggu cara pandang manusia terhadap keadilan yang dimaksudkan, dan ketika manusia menemukan kegelisahan yang didapatkan dalam permasalahan dunia terutama dalam hal keadilan yang menyangkut kebutuhan manusia berupa kebutuhan skunder maupun primer, manusia justru meminta keadilan tuhan, bukannya berusaha untuk mendapatkan berdasarkan ilmu dan ketekunan dalam bekerja. Tuhan sudah melengkapi dengan segala kebutuhan dan keadilan yang utuh dalam dunia maupun alam metafisik, secara menyeluruh. Tugas manusia ialah bagaimna mereka  menerapkan aturan teologis untuk mendapatkan keadilan di dunia tanpa mengeluh, karena yang demikian di dunia ialah milik bersama bagi umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Adib,muhammad.  Filsafat Ilmu.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010.
Eprints.walisongo.ac.id
Tulaeka,hamzah. Akhlak Tasawuf. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. 2011.
Sudji, M Heru. Pengakuanku Sebagai Tuhan. Surabaya: Matahati. 2012

*Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Eksistensi Teodisi Dalam Simbol Kehidupan Manusia Teologis Dalam Era Modern"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel