-->

BUKAN SEKEDAR VIRAL: AKU DAPAT APA? (Pertanyaan Mahasiswa hari ini)


@Pojok Dialekkita.


Sehabis acara pelantikan rayon tarbiyah, ketua kom uinsa dan beberapa ketua rayon ngajak saya ngopi untuk sejenak melepas pertanyaan untuk beberapa hasil kongres di palu kemaren. Sesudah sampai ditempat, secara kebetulan ketemu salah satu senior uinsa yang lama bergiat di "Gubuk Pintar-nya" dalam dunia baca tulisnya. Ketua kom uinsa tak kunjung datang karena sibuk menyipkan RTK nya, kami mulai ngorbol santai kemana kemari. Lalu sampailah obrolan itu ke salah satu bahasan yang saya taruk di judul postingan ini.

Hampir seluruh pengurus dan juga dari ungkapan yang disampaikan senior kami itu mendapati kesamaan informasi dari anggota dan kader kadernya, yaitu munculnya paradigama baru yang berkualitas dan hebat atas keberaniannya. "Saya dapat apa?" Ya, itu ungkapan singkat keluar ketika kami menanyakan kenapa kok jarang aktif ikut kegiatan dan kajian kajian yang diselenggarakan oleh pengurus. Saya tidak terima dengan jawaban itu, tapi....mau apa lagi wong itu kenyataannya. Kenyataan bahwa sudah  mulai tidak ada proses intelektual yang ingin dilaluinya. Semua harus serba cepat dan instan.

Kalau menurut senior saya itu, barangkali Mahasiswa yang menjawab seperti itu keinginannya mau jadi artis, yang bisa manggung di siaran televisi, eksis di dunia maya, viral di masyarakat, uang melimpah dan bisa mentereng dengan mobilnya untuk mendatangi tempat tempat hidonis. Ya bisa jadi benar, dan kalau hanya ingin seperti itu tidak perlu kuliah, kursus jadi artis saja biar lebih cepat. Atau ikut diklat ceramah mumpung mau bulan puasa agar bisa tampil di televisi. Karena sangat "eman" kalau menurut saya dengan gelar mahasiswa tetapi tidak kemudian melekat esensi kemahasiswanya. Minimal intelektual yang mumpuni dan kecerdasan kritis transformatif adalah esensi yang harus diisi dan diasuh terlebih dahulu sehingga ada nilai dan integritas dalam melangkah dan kemana berkiprah.

Menurut saya, ada propaganda baru yang terjadi dikalangan mahasiswa ini.
1. Zaman, iya zaman sudah beda. Stagnasi berfikir dipengaruhi oleh produk zaman digital. Visualisasi yang ditampilkan oleh produk produk digital hari ini hanya ada dua kalau menurut saya, satu peristiwa pelanggaran hukum yang membuat keruh situasi dan kondisi masayarat, kedua dunia hidonisme kalangan artis yang seolah olah mempunyai segala hal dan pujian mampu memberikan ketertarikan dahsyat untuk seluruh elemen masyarakat kita.
2. Tuntutan profit, tidak salah sebenarnya namun cenderung menjadikan kita subjek komsumtif dan serba ingin instan. Semisal setiap ada kegiatan dan disitu disampaikan peluang yang akan di dapatkan maka saya pastikan akan banyak yang ikut, contoh: Kajian hukum, lalu disebutkan dia akan dapat foto bareng dengan ketua hakim jawa timur, dapat peluang magang di instansi tertentu, dapat snack, dapat uang transport, dapat besas ketika kenak kasus hukum dll. Atau misalnya pelatihan jurnalistik, disampaikan akan bisa foto bareng pimpinan jawa pos dan ketua penerbit nasional, tulisannya bisa ditaruk dikoran kompas (bisa bangkrut kompas karena gak ada yang baca), bisa nyetak gratis dipenerbit terkanal (emang kayak ngeprin proposal tidak untuk dijual tali untuk cari uang), dll.

Sekali lagi itu boleh, tapi tidak hanya fokus sama peluangnya tanpa mau melalui prosesnya, peluang tidak diasari peluh ya jadinya hanya ngeluh. Direalitas, ketika pengurus yang ngajak kajian, diskusi, baca buku bersama yang datang hanya 5 orang padahal anggotanya 100 orang. Itu artinya dia tidak ingin mengisi dan memperkaya diri dulu dengan ilmu dan pengalaman sehingga bisa mempuni ketika dihadapkan dengan peluang yang ada. Dan menurut informasi dari dari temen-temen pengurus rayon dan komisariat disurabaya daya tarik diskusi melemah karena faktor dari SDM nya itu sendiri yang sekedar hadir dan duduk tanpa membawa gagasan dan referensi sehingga diskusinya kaku, beku, tak berbobot. Disuruh ikut ngomong milih diam karena tidak tau yang akan diomongkan, ya wajar diskusinya tidak menarik. Bukan salah diakusinya tanpa personelnya kering informasi dan referensi.

Hanya ada satu pertanyaan balik bagi yang sering menjawab seperti dibatas. "Kamu maunya jadi apa? Dan bisa apa?" Pasti bingung karena tidak besic yang dia punya dan bisa. Kepalanya sudah capek untuk berfikir yang susah? Mending upload foto di medsos lalu suat sautan dikomentarnya seperti itu sudah senang dan bisa jadi itu yang memang diinginkannya.

Salam damai Indonesiaku !

Surabaya, 24-05-2017

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "BUKAN SEKEDAR VIRAL: AKU DAPAT APA? (Pertanyaan Mahasiswa hari ini)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel