KENYATAAN INI "BUKAN REVOLUSI"
July 19, 2017
Add Comment
Catatan Siddiqurrohman abad arz*
"Berteater adalah memantaskan karakter dipentas kehidupan, Berseni memantapkan hati dalam anggapan fikiran" bung abad arz.
Judul dari tulisan ini merupakan sebuah tema pementasan teater teman-temen seniman dari Mahaiswa UNIPA Surabaya yang di gelar di taman budaya jawa timur kemaren, (19/07/2017).
Adalah sebuah hal yang sangat mengunggah kesadaran saya berbangsa dan bernegara. Dimana saya sudah lupa untuk mengkonteksi realitas ini yang tentu sudah bukan dongeng dalam angan dijalanan juga bukan sebuah anggapan dalam kehidupan.
Teriakan kita hanya ada dalam dalam kebanggaan caci maki tetapi tak ada dalam sistem yang satupun tuntas diperbaiki.
Uang, lapar, dan ucapan? Mereka adalah djajjal dalam diri kita yang sudah mendekat ke urat nadi.
Kemudian, dipertunjukan yang ketiga. Saya menemukan kehampaan hidup di judul pementasan "Tarian Angsa (balada perempuan)". Bagai Angsa yang berbulu lembut, berenang didanau kenikmatan yang dangkal lalu melakukan tarian, hilanglah keperawanan. Disisi lain, batu yang menggigit dilingkaran danau menunjukkan keangkuhan.
" Wahai malaikat penjaga firdaus, wajahmu angkuh dan dengki"
Sebagai pelacur sudah tidak ada jalan menuju firdaus karena mereka adalah pendosa. Tapi mengapa pejabat yang merampas kehidupan ribuan orang tidak dianggap pendosa?, yang pantas untuk dihina dan diterjang ke jurang kenistaan. Dari sinilah kemudian jumlah pelacur akan meningkat dan harus dibuatkan rumah pelacuran, agar minimal bisa meneruskan hidup sendiri sampai benar benar menjadi hilang nama dan jabatannya sebagai pendosa.
"Wahai malaikat penjaga firdaus, wajahmu sombong dan dengki"
Cacian dan kelaparan sudah tidak menjadikan pelacur takut mati. Tentu sudah tidak butuh malaikat firdaus dalam mengharap pertolongannya. Mereka hanya butuh Tuhan untuk menemani detik detik kematiaannya dan karena merekapun percaya hanya tuhan yang bersedia bersamanya.
Sangat miris, kebekuan yang menghampiri manusia hari ini memang mengaku beragama namun tidak bertuhan. Tontonan kebanggaan menghilangkan kebangsaan antar sesama, tontonan uang merongrong pedang untuk mematahkan leher sesama, tontonan kelaparan melahap hak hak saudaranya. Andil ikut berebut kuasa, dan menganggap dirinya yang sah dimata sang maha esa. Pertengkaran dan peperangan tak kunjung terselesaikan. Semuanya menggarap pengikut untuk berebut dengan apapun cara yang bisa di rengut.
"Tuhan, temanilah kesedihan kami disaat semua orang memikirkan kebahagiaan sendiri. Tuhan, bantulah kami disaat semua orang sibuk mencukupi diri sediri. Tuhan, tunjukkanlah jalan kami dijalanmu disaat semua orang sama sama menunjuk jalan kebenarannya sendiri. Hanya padamulah firdaus kupinang dengan syahadat kami. Ampunilah atas kelemahan dan kebodohan kami" Begitulah doa para pelacur yang selalu menemukan hinaan dan himpitan dalam menempuh lorong panjang kebenaran.
Ironisnya negeri ini pun demikian, ada ketimpangan jalan antara yang mampu dengan yang rapuh, antara yang berkuasa dengan yang berjasa. Semuanya meneriakkan "revolusi" dari A sampai Z namun tetap membanggakan apa yang menggalkan cita cita bangsa dan negara ini. Luka menjarah kemerdekaan masih tetap dianggap memerangi penjajah sampai saat ini, Sehingga tanggungjawab menjaga negeri ini semata merasa aman dan nyaman ketika belum ada si penjajah dari luar negeri tanpa melihat musuh nyata si penjahat yang berasal dari dalam negeri sendiri. Ya, barangkali karena kita sendiri sipenjahat itu sehingga suka mengadili karena sama sama takut untuk di adili.
Surabaya, 20-07-2017.
*(Kontributor Mahasiswa Bergerak)

0 Response to "KENYATAAN INI "BUKAN REVOLUSI""
Post a Comment