-->

INTINYA INDONESIA SAAT INI KURANG TENAGA PETANI DAN TEKNOLOGI PERTANIAN.


Catatan: Siddiqurrohman abad arz*

Dalam pelatihan tenaga kepemudaan dibidang kedaulatan pangan yang diselenggerakan oleh Kementrian Pemuda dan olah raga Republik Indonesia merupakan sebuah gerakan penyadaran dan pemahaman tentang kondisi pangan Indonesia khususnya Jawa Timur, karena memang peserta merupakan perwakilan dari setiap kota di Jawa Timur yang berangkat dari lembaga organisasi, dinas, komunitas, pelaku pertanian di kotanya masing-masing. Pengambilan delegasi yang rondem merupakan i'tikad Bapak Menteri untuk membangkitkan semangat generasi yang kemudian peka terhadap perjalanan kebutuhan sandang pangan di Indonesia.

Beliau juga mengatakan bahwa "Energi makanan yang berasal dari indonesia sangat originil dan bergizi premium, maka jangan heran jika hari ini masyarakat kita sudah mengalami pergeseran karakter dan multi level kecerdasan karena hampir seluruh makanan kita membeli dari luar negeri "

Tak heran memang, lebih ekstrimis saat teknologi informasi dan Internet melaju dengan cepat kedalam organ otak manusia lalu mencipta sebuah visualisasi aneka makanan dari mulai terunik sampai termahal sekalipun yang penting bisa menjadi bekal gaya dan pamer. Lain dari pada itu tak khayal juga, doktrinasi dari orang tua mulai berubah terkhusus mereka yang sedang kemelut dengan dunia pertaniannya. Atas nama beban dalam mencari keberlanjutan hidup, sesak sesal mereka menguap ketika hendak mengkuliahkan anaknya dengan pesan yang buta. "Nak, kuliah yang pinter ya nak. Biar tidak menjadi orang susah seperti saya dan keluargamu (petani), kalau bisa jadilah jadilah pengusaha yang kaya raya atau jadilah guru PNS ya nak"

Dari sisi psikologis, orang tua yang seperti itu juga tidak 100% salah dalam doa dan harapan, namun ada sisi sentris yang kurang dalam pemahaman bahwa yang salah bukan menjadi petani tapi karena ilmu bertani kurang mumpuni saya kira begitu tepatnya. Sehingga tak jarang kita temukan banyak ragam kecerobohan dalam proses bertaninya. Saat ingin pembenihan, untuk membunuh hama mereka sudah mulai menaburi dengan air keras yang mengandung zat kimia berbahaya hanya untuk meracuni hama dan mematikan rumputnya dengan cepat, begitupun prosesnya sampai panen. Hati yang tergesa gesa berganti menjadi gelisah karena Tuhan mengirimkan hama yang lebih seram dan kuat bertahan, jiwa yang memaksa lambat hari hingga musim berganti menjadikan jiwanya menderita karena ozon berlubang oleh zat kimia itu sehingga bumi memanas lalu kemudian membakar kulit petani, tak nyamanlah dia di sawah, gerahlah mereka dalam usahanya. Belum lagi musim juga mulai berebutan untuk menjenguk kondisi bumi, sehingga diwaktu yang tidak pas mereka hadir. Tanaman padi uban diusia belita, jagung kurus tak berdaging, singkong mengumpat tak mau kepermukaan, dan ketika hujan berhasil berebut pas ketika tembakau lagi ditanam. Tammatlah jerih lirih tangisnya.

Dari hal itu kemudian saya teringat terhadap salah satu firmanNya bahwa kerusakan dibumi, laut dan langit karena tangan tangan manusia.

Tanggung jawab sebagai petani ber-sarjana tentu harus terlibat dalam perbaikan sandang pangan bangsa ini karena itu adalah penentu kehidupan dan keberlanjutan Indonesia yang akan datang. Ketua Umum Pusat Fatayat Nu yang juga hadir diakhir acara juga berpesan bahwa sebagai calon petani yang akademisi harus mau berbagi peran, tak harua juga semua ada disawah saban pagi sampai petang. Banyak peran yang perlu diambil seperti meramut semangat petani sekitar dengan perkumpulan kelompok tami dimaksimalkan, berbagi keilmuan lewat sosialisasi, memberikan contoh bertanam yang benar bagi masyarakat. Kalau dari teknologi bisa kita akses melalui bantuan pemerintah untuk disalurkan dan digunakan bukam dijual lagi, memberikan petunjuk jenis benih yang baik, memberikan pengetahuan sekaligus bantuan pupuk yang aman. Teknologi lain bisa kita ambil dari luar negeri yang sesuai dengan kearifan lokal Indonesia.

Karena generasi yang bisa memperbaiki ketika ada ketidakbenaran di lingkungannya sendiri. Maka jika peran itu telah sampai terhadap solusi, pangan Indonesia akan tercukupi tanpa melirik barang luar negeri, dan bisa jadi akan menjadi ketahanan pangan bagi seluruh penduduk negeri bahkan untuk negara negara lain yang secara potensi alamnya lebih rendah dari kita yang saat ini masih bergengsi.

Surabaya, 28-06-2017

*(Kontributor Mahasiswa Bergerak)

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "INTINYA INDONESIA SAAT INI KURANG TENAGA PETANI DAN TEKNOLOGI PERTANIAN. "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel