ADA APA DENGAN KAMPUSKU ???
August 12, 2017
1 Comment
Oleh : Aziz Maulana El Abror*
Keadaan mahasiswa semestinya antusias, pada awal tahun perkuliahan di mulai, ada greget yang ingin di capai dalam menjalani pendidikan di perguruan tinggi.
Perguruan tinggi menjadi acuan penting bagi pelajar-pelajar untuk melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, hal itu di karenakan semakin butuhnya masyarakat terhadap kualitas kaum intelektual muda, untuk mengolah sistem kehidupan bermasyarakat.
Pelajar yang ada di perguruan disebut dengan Mahasiswa, dengan nama tersebut mempunyai peranan penting yaitu sebagai agent of change yang berarti totalitas dari mahasiswa menjadi prioritas dalam hal pendekatan-pendekatan sosial untuk menumbuhkan rasa kepedulian antar sesama.
Selain melakukan pendekatan, Mahasiswa wajib hukumnya untuk memperdalam keintelektualannya dalam upaya untuk menjadi "kader" bangsa yang bermartabat.
Sering terjadi pada mahasiswa umumnya, melakukan promosi kampus guna untuk mencapai hasrat sebagai penghuni yang sudah berada di dalamnya.
Bahasa yang di pakai terkadang melebihi kapasitas/mutu, padahal tidak jarang terbukti setelah "masa orientasi" keadaan kampus tidak sesuai dengan apa yang di inginkan, dengan fakultas yang di pampang menjadi objek pemandangan dan fasilitas sarana prasarana yang tidak memadai, kenyataannya hanya formalitas.
Doktrin barokah yang sering terdengar ditelinga ternyata telah menghipnotis keadaan, sehingga seoalah-olah menjadi sebuah prioritas bagi Mahasiswa, padahal cita-cita pendidikan mencetak bangsa yang bermartabat dan berilmu serta bertanggung jawab atas keilmuannya(pm11).
Praktek dilapangan, pendidik mentransfer ilmu dengan berbagai macam strategi, tidak ada istilah seorang pendidik mentransfer barokah
lantas siapa yang harus bertanggung jawab dengan hal demikian, apakah mahasiswa ataukah pihak pengelola, atau hal ini ada permainan antara pengelola dengan oknom birokrasi pemerintah,
Tentunya jika membahas salah atau benarnya, Mahasiswalah yang salah, mangapa tidak menganalisa terlebih dahulu, memilah dan memilih kampus yang mampu mencetak dirinya sebagai pelajar muda yang potensial dan berintegritas.
Kaum pemuda khususnya Mahasiswa dalam kiprahnya telah menorehkan berbagai kontribusi dalam mengawal tegaknya negri ini, menjadi negara yang di akui di kancah nasional maupun internasional sebagai negara yang berkedaulatan.
Mirisnya mayoritas kaum pemuda, berleha-leha dengan hidangan yang serba modernis, sehingga lalai dengan tugasnya sebagai bangsa negara yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.
Bangsa ini terlalu lama di jajah oleh orang-orang orientalis kapitalis bahkan dewasa ini menjadi pelayan sebagai aktor figuran, pemuas hasrat bangsa borjuis yang tidak jarang mengeksploitasi negri ini.
Dari berbagai kelembagaan perguruan tinggi tentu ada prioritas pencapaian, maka dengan keadaan seperti sedemikian, mahasiswa harus mencari celah untuk dapat mencapai hasrat sbagai bangsa negara yang berintelektualitas.
Ada kalanya status sebagai mahasiswa namun tidak mencerminkan dirinya sebagai pejuang umat, lebih sibuk dengan pemikiran-pemikiran pragmatis dengan mendiskreditkan kemampuannya untuk meredakan dan membela kaum lemah, namun di sisi lain menjadikan dirinya bangsa yang profesional.
Di zaman derasnya arus globalusasi ini sangat menyeta kesempatan untuk saling tegur sapa walupun hidup berdampingan, sungguh sangat lucu hidup berdampingan tapi seperti berjauhan peranannya dalam kehidupan bersosial.
ORGANISATORIS
Setiap mahasiswa pasti mempunyai hasrat untuk hidup bersama untuk mencurahkan keinginannya menjadi orang yang berrguna bagi masyarakat di lingkungan dinana ia berada.
Ada banyak cara setiap individu untuk menggapai mimpinya ada yang prosesnya melalui menganalisa apa-apa yang di arahkan oleh paduka bapak dosen, ada pula yang berproses jalur mandiri ialah ikut kumpul dengan mahasiswa organisatoris, melakukan penelitian dan pengabdian sesuai dengan tridharma perguruan tinggi.
Upaya-upaya berproses semacam itu tidak jarang medapat umpatan dari teman sejawat karena ketidak tahuannya pada langkah dan tehnik transfer keilmuan dalam organisasi itu, sebut saja " KAUM SUCI" artinya orang yang tidak pernah tahu bagaimana kehidupan organisatoris namun mereka brranggapan hal negatif yang harus di hindari.
Kurangnya menerima perbedaan menimbulkan justifikasi negatif pada orang lain yang berada di hadapan, kampus tempatnya anak muda bangsab berproses, dengan hal itu yang mestinya prioritas keterbukaan bersama dan keadilan di junjung tinggi.
*Mahasiswa aktivis PMII Kampus Tasywirul Afkar Surabaya.
(Kontributor Mahasiswa Bergerak)

Luar biasa pak pres
ReplyDelete