-->

"Malaikat Ingusan " Menjadi sebuah Nilai


Oleh: Siddiqurrohman Abad Arz*

Sejenak mengingat kalimat yang 9 tahun silam pernah ada dibenak. Dua kata yang pernah dijadikan judul puisi oleh ustad saya dipondok. Sampai akhirnya si ustad di panggil kyai karena judul yang sedikit dianggap kurang sopan tapi setelah dijelaskan oleh ustad kyai saya pun mengangguk, alis membolehkan. Apa makna dari dua kata itu?

Malaikat adalah mahluk yang suci dan sangat ta'dzim kepada Tuhannya. Lalu oleh ustad di analogikakan seperti santri yang menurutnya berada dalam kesucian dan masih sangat ta'dzim kepada sang kyai (Terlepas pasti ada yang sebaliknya). Ingusan diartikan sebagai anak kecil yang masih kelihatan cupu, comot, dan kudet kalau bahasa sekarang. Ustad ingin memotret kehidupan manusia dari tempat dan usianya. Yang kemudian akan mengalami perubahan predikat sewaktu waktu. Dengan "Malaikat Ingusan" ingin sekali ustad saya menjadikan sebuah bentuk tegur sapa dalam kehidupan kita, yang senantiasa menjadi cermin dalam setiap masa dan tempat pijakan manusia agar kesucian dan kekesederhanaan senantiasa menjadi kesadaran penting untuk menjaga keperibadiaannya.

Dalam ilmu psikologi mungkin kita perlu belajar bahwa sebuah objek akan menyesuaikan dengan lingkungannya. Waktu dan tempat adalah lingkungan bagi manusia, maka proses adaptasi tidak jauh dari  alat tempuh keduanya.

Perjalanan sebuah bangsa, tentu akan berbeda dengan apa yang sudah dilakukan oleh bung karno, bung hatta, bung syahrir, tan malaka, pram, dan lain sebagainya. Karena jarak tempuh sudah berbeda, waktu dan tempat yang mereka adaptasikan pun tak sama. Tapi cermin sejarah tidak bisa kita abaikan untuk mendeteksi kondisi bangsa hari ini, karena sejatinya kejadian dimuka bumi ini adalah sebuah peristiwa yang berlangsung berulang ulang. Hanya saja proses adaptasi waktu dan tempat itulah yang berbeda. Seperti malaikat ingusan yang labellingnya diibaratkan sebagai seorang santri tapi bukan sebatas nama, tapi sebagai sebuah nilai yang bisa untuk merasuk kedalam energi kita masing masing. Si bung di atas bukan soal nama, tapi soal nilai perjuangan yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan ragam persoalan bangsa ini. karena rasa dan harapan tentu akan selalu sama.

Tokoh agama seperti KH. Hasyim asy'ari dan KH. Achmad dahlan pun masih sangat cocok untuk kita serap nilai perjuangannya yang mampu memayungi kehidupan beragama di negeri ini, hingga berlangsung sampai saat ini seperti halnya kedua sayap yang kian terbang diangkasa, mengangkat harkat dan martabat Indonesia. Tinggal bagaimana kita bisa memahami dan mempelajari dari kedua tokoh pemuka itu, tentu dengan iringan waktu dan tempat yang harus menjadi pijakan analisis berfikir kita bersama.

Kalau boleh saya berargumentasi sedikit, keduanya tersebut sangat jeli sekali memposisikan syiar agama dengan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia seperti halnya Nabi Muhammad yang berhasil menyatukan antara skat Agama dan budaya arab pada waktu itu.  Begitu juga tentang kebudayaan kita yang sangat terkenal mempunyai kekayaan budaya terbesar di dunia, hal yang paling urgen dari budaya adalah tradisi. Tradisi adalah sebuah praktik kebiasaan yang membentuk sebuah nilai dimasyarakat. Hari ini sudah banyak yang tidak begitu memperhatikan kebudayaan lokal kita, pergeseran budaya kita pun menghanyutkan pergeseran nilai kita. Padahal beberapa sejarawan lokal maupun mancanegara telah mengakui bahwa Indonesia sebagai peradaban tertua di dunia. Adakah yang ingin mempelajari hal tersebut? Atau sekedar menelisik nilai dari sugesti spirit peradabannya?

Keadaan kita hari ini patut kita sikapi dengan baik karena kita terlalu memuja simbol dari apa yang kita lakukan bukan mentransformasikan nilai untuk kita kerjakan, baik dalam hal agama, perjuangan, kebangsaan, kebinekaan, kedaulatan, pendidikan dan harkat pemudanya. Saya sungguh bersyukur sekali kalimat memukau itu pernah diucapkan oleh Gus Dur dan ada yang mencatatnya hingga saya yakin kalimat tersebut akan menjadi cermin dalam kehidupan kita berbangsa dan beragama.
"Jika kamu berbuat baik, orang tidak akan bertanya agamamu apa?" Kurang lebih itu kalimat yang pernah diucapkan oleh Bapak Guru bangsa itu.

*Penulis adalah Mahasiswa UPN Surabaya sekaligus nyantri di PMII Cabang Surabaya
(Kontributor Mahasiswa Bergerak) 

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to ""Malaikat Ingusan " Menjadi sebuah Nilai"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel