PMII UINSA ternodai dengan kehadiran Gus Ipul
December 01, 2017
Add Comment
#Berbicara dengan baca tulis kita
Dialekkita- RABU, 20 Desember Fakultas dakwah dan komunikasi(FDK), melaksanakan seminar dengan tema "Pemimpin Zaman Now" yang akan dihadiri oleh walikota Surabaya Ir. Tri Rismaharini MT, wakil ketua DPRD Surabaya Ir. H. Masduki Toha, dan calon gubernur Jawa Timur Drs. H. Syaiful Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul
Seminar yang dipelopori Dema FDK menuai banyak kritik dari kader PMII. Pasalnya, kedatangan Gus Ipul ke UINSA tidak murni menghadiri undangan, melainkan tercium aroma kepentingan pencalonannya di Pilgub jatim mendatang. Penolakan itu disampaikan oleh kader PMII Fakultas Syariah dan Hukum yang tidak mau disebutkan namanya.
"Sebagai mahasiswa pergerakan 117, saya heran pada kader PMII FDK, kenapa Pemateri seminarnya dari orang HMI, padahal senior PMII ibu khofifah pada seminar kopri kemaren dicegat pihak birokrat dengan alasan pemadaman listrik" Ungkapnya dengan kecewa
Kekecewaan juga di sampaikan ketua umum Majelis Dakwah dan pendidikan islam(MADANI) Idy Muzayyad. Menteri sosial tidak dapat mengisi acaranya kopri di UINSA, sebab ada pemadam listrik.
"Rektor UINSA terlalu mengada-ada, misalnya soal pemeliharaan dan pemadaman listrik. Bayi baru lahir pun akan ketawa dengan alasan itu. Kalau bikin alasan yang lebih masuk akal lah,” sindirnya. (Lingkarjatim.com kemarin)
Menurut Idy, Rektor UINSA sudah tidak lagi independen dan obyektif dalam bersikap. “Patut diduga, dan perlu ditabayyunkan, jangan-jangan pelarangan itu karena pesanan pihak lain. Kalau itu benar, maka sudah jelaslah adik-adik Kopri ini sedang berurusan dengan seorang rektor yang menjadi bagian dari kelompok kepentingan tertentu” tegasnya. (Lingkarjatim.com kemaren)
Dengan kehadiran Gus Ipul ke UINSA, PMII jelas mengalami dekadensi pergerakan secara politik. PMII kalah bersaing dalam permainan politik dengan HMI. Kekalahan itu terkuak dengan mudahnya Gus Ipul mendapatkan fasilitas kampanye yang dikemas seminar. Apa lagi tema yang diusung tentang kepemimpinan.
Secara pribadi, Gus Ipul tidak berani tampil di UINSA, melihat gejolak politik birokrat kampus yang terlibat dalam perhelatan Pilgub 2018. Kecuali Kehadirannya ditumpangi senioritas PMII yang sudah menggadaikan almamater pergerakan. Mahasiswa yang berideologi pergerakan harus menolak kehadiran Gus Ipul ke UINSA dalam agenda apapun, mengingat momentum Pilgub jatim semakin dekat.
Namun yang menjadi persoalan diinternal PMII saat ini, mengalami dekadensi yang amat jauh dari filosofi pergerakan. PMII lebih memilih sikap pasif, mengalah, dan pasrah saat berhadapan langsung dengan birokrat kampus. Suara lantang yang menjadi ciri khas mahasiswa pergerakan menjelma bisikan kecil, forum kajian yang ramai dengan argumentasi berganti forum event organizing(EO). Hampir Kegiatan rutinitas PMII yang melahirkan kader kritis, produktif, dan profesional berubah seketika. Ditambah lagi, doktrin transformasi pergerakan yang enggan demonstrasi pada kebijakan meski merugikan. Sedangkan mahasiswa, bukan sekelompok pelajar yang menerima segala ketentuan.
Vakumnya mahasiswa pergerakan mendekati skala sempurna, dengan bungkamnya atas kehadiran Gus Ipul ke UINSA. Padahal PMII merupakan organisasi ekstra yang menentukan ritme perpolitikan. Maka sudah saatnya, kader pergerakan bangkit kembali untuk mengangkat marwah PMII kepermukaan umum.
Dalam sejarah pergerakan kampus 117. Aktor-aktor PMII tidak lepas dari keberaniannya menyampaikan aspirasi. Proporsional antara ucapan dan tindakan. Salam pergerakan bukan sekedar jargon waktu kaderisasi, tetapi teruji dan terbukti. Inilah sejarah kebanggaan PMII yang sulit terulang lagi, melihat kondisi kader PMII mulai ejakulasi dini.
Kontributor: Ridwan

0 Response to "PMII UINSA ternodai dengan kehadiran Gus Ipul "
Post a Comment