Rendahnya Daya Baca Warga Jakarta
December 20, 2017
Add Comment
Hasil penilaian dari the Program for the International Assessment of Adult Competencies, sebuah tes kompentensi sukarela untuk orang dewasa (16 tahun ke atas), menunjukkan rendahnya tingkat literasi dan daya baca warga Jakarta.
Tercatat hanya 1% warga Jakarta yang memiliki tingkat literasi memadai (Level 4 dan 5). Tingkat literasi Level 4 dan 5 artinya bahwa orang yang bersangkutan bisa mengsinergikan, menafsirkan, menganalisis, dan mengsintesis informasi, fakta, dan data dari teks-teks cukup panjang.
Selanjutnya, hanya 5,4% warga Jakarta yang tingkat literasinya pada Level 3, artinya hanya 5,4% saja warga Jakarta yang mampu menemukan (menemukan saja tidak bisa menganalisis apalagi mengsintesis dan menganalisis) informasi teks-teks panjang.
Sisanya (lebih dari 90%), masyarakat Jakarta hanya bisa menangkap dan memahami informasi lewat pesan dan tulisan pendek (lewat sms atau postingan singkat di Twitter, FB, dlsb). Oleh karena itu wajar sekali kenapa warga Jakarta gampang sekali "didoboli" dan "dibodohi" oleh para makelar politik, pedagang ekonomi, dan tengkulak agama.
Jika Jakarta saja begitu parahnya apalagi tempat-tempat lain. Karena itu wajar kalau Indonesia berada di nomor hampir buntut dalam tingkat literasi dan daya baca, kalah jauh dengan tetangga-tetangga kita Singapura atau Malaysia.
Sangat menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi hampir-hampir tidak ada para tokoh agama yang berceramah, berpidato, berdemo, berteriak menyerukan tentang kewajiban membaca dan meningkatkan literasi.
Padahal, dalam Islam, sangat gamblang sekali perintah Al-Qur'an dan Nabi Muhammad tentang membaca, mempelajari dan menuntut ilmu-pengetahuan. Bahkan ayat pertama dalam Al-Qur'an adalah perintah untuk membaca!
Tetapi kenapa tidak ada tokoh Muslim, ustad, da'i, tukang khotbah yang bicara lantang tentang rendahnya daya baca dan tingkat literasi ini?
Kenapa mereka hanya bersuara lantang tentang sehelai kain yang remeh-temeh bernama hijab, jilbab dan sejenisnya tetapi mulut mereka membisu seribu bahasa tentang fenomena "kebahlulan" umat beragama yang jelas-jelas di depan mata?
Jika mereka menganggap berhijab itu perintah Tuhan dan Nabi-Nya, bukankah membaca juga perintah Tuhan dan Nabi-Nya?

0 Response to "Rendahnya Daya Baca Warga Jakarta"
Post a Comment