PERBEDAAN PANDANGAN TIDAK UNTUK SALING HUJAT-HUJATAN
January 16, 2018
Add Comment
Oleh : Aziz Maulana*
Beragama bukanlah untuk menghujat perbedaan. Kalaupun Allah menginginkan, tentunya hanya satu ummat yang diciptakan. Namun tersiratlah jawaban dari diciptakannya ummat yang penuh dengan perbedaan, Dan disitulah pentingnya belajar memahami, mengapa? Untuk apa? Bagaimana? dan lain sebagainya, dari pertanyaan2 mendalam yang harus dimengerti jawabannya.
gamblangnya saja, seperti kita muslim indonesia, tidak harus menjadi orang arab atau berbudaya ala arab terlebih duhulu lantas boleh beragama islam. Namun karena keberadaan islam itu sendirilah yang memang diperuntukkan bagi seluruh ummat, yang konon Nabi saw diutus membawa risalahnya.
memang benar kenyataannya agama tersebut pertama kali di tanah arab secara lahiriyah.
Sehingga tampaklah keistimewaan tanah arab dari pada ajam.
Terlepas dari semua itu, jangankan arab, Beliaulah sababi kulli almaujud, seluruh wujud itu ada berkat adanya Nabi muhammad saw. Sehingga wajiblah memuji Nabi saw beserta memelihara seluruh alam yang adanya berkat keberadaan Nabi muhammad saw.
Dengan sabdanya bahwasanya bukanlah lahiriyyah yang membedakan seseorang, namun seberapa tinggi tingkat ketaqwaannya dihadapan Tuhan.
Dari uraian diatas, dapat di pahami bahwa tugas seorang muslim ialah bagaimana menyerap ajaran islam itu sendiri dan berpegang teguh terhadapnya tanpa merubah tradisi dan kebudayaan yang beragam.
Maka pentinglah memperhatikan saudara yang lain hendaknya dengan pandangan hakikat.
Berbeda saat melihat kepada diri sendiri, yang seyogyanya dengan pandangan syareat, syareat yang memang setiap makhluq beriman harusnya menjalankan. Akhirnya dalam kepribadian, hal ini menggugah hati / batin, menciptakan harmoni kesabaran, keikhlasan, kerelaan.
Sehingga dalam kebersamaan, ia pun menjadikan prilaku / dzohir berbalut ketawadluan, keramahan, kelembutan, kesopanan dan tak mudah memandang selainnya berlumur kesalahan.
Karena itu jalan terbaik dari akhlaq batiniyyah, baik kepada sesama maupun kepada Tuhannya ialah dengan baiknya ia dalam berprasangka, dalam niat, maksud dan keinginan.
Begitu pula akhlaq dzohiriyyah kepada sesama maupun kepada Tuhannya ialah dengan santun.
seseorang ketika berbuat sesuatu Kedua kutub syareat & hakekat sangatlah erat hubungannya, sama halnya satu komponen tak dapat dipisahkan
Mengarahkan pada kebaikan dan mencegah perilaku kejahatan. Apabila keduanya sama-sama kuat dan sama-sama dijalankan, maka akan menjadi ketenangan (mutmainnah)
Ontologi perbedaan ialah kebenaran dan seimbang jika tidak maka menjadi hambatan.
Maka samarlah hakikat perbedaan, dan terhijablah kebenaran, Sebagaimana dalam syarah Al Hikam assyaikh ibn atho'illah assakandariy telah dijelaskan, bahwasanya "tidaklah kebenaran itu terhijab, adapun yang terhijab adalah diri dari melihatnya ( MohKamil.red)
*Penulis adalah Presiden Mahasiswa At-Tasywirul Afkar Surabaya

0 Response to "PERBEDAAN PANDANGAN TIDAK UNTUK SALING HUJAT-HUJATAN "
Post a Comment