-->

Kekuatan Lingkungan "Mbonek"


Oleh: Agus Syairofi*

Berawal dari fenomena sosial yang terjadi dilingkungan tempat saya bekerja. Saya melihat sebuah fenomena sosial yang membuat hati saya gelisah sebagai pendidik, terkait prilaku yang mengintervensi anak didik saya disekolah. Tak jarang saya melihat fenomena itu tampak pada prilaku beberapa siswa saya.

Lingkungan tempat saya mengajar ialah lingkungan pemukiman yang padat, di pinggir kota Surabaya. Berbagai macam karakteristik ada dilingkungan tersebut. Mulai dari yang baik hingga yang kurang baik. Hal itu dikarenakan basic masyarakatnya ialah pendatang.

Masyarakat di sekitar tempat saya mengajar sangat kuat fanatismenya terhadap bola, terlebih terhadap club yang dibangga-banggakan ialah Persebaya Surabaya.

Lalu apa masalahnya dengan club Persebaya?

Sebenarnya tidak ada masalah dengan Club Persebaya, malah kami sebagai warga Surabaya sangat bangga dengan Club Bajul Ijo tersebut karena beberapa waktu yang lalu telah meraih juara di liga 2. Namun, yang menjadi kegundahan saya ialah prilaku tidak baik yang ditampakkan oleh beberapa pendukung club yang kami cintai tersebut. Prilaku tidak baik yang diperlihatkan oleh beberapa oknum pendukung Persebaya sepertinya sudah menjadi sebuah budaya yang sangat membahayakan. Bahkan bukan lagi budaya, tetapi sudah menjadi karakter. Hal itu tampak pada beberapa remaja dan anak yang ada di sekitar sekolah. Memakai atribut Persebaya dengan tatanan rambut yang tidak mendidik, membawa ukulele, perkataan kasar, bahkan perkelahian sering terjadi, dan itu dilihat langsung oleh siswa-siswi kami. Belum lagi budaya naik motor ugal-ugalan, tidak mentaati peraturan, mencegat kendaraan pick-up, truck, dan lain-lain sepertinya menjadi hal biasa bagi mereka. Bahkan mereka mengistilahkan perbuatan tidak terpuji tersebut dengan istilah "MBONEK".

Benar apa kata Pavlov, bahwa stimulus mempengaruhi respon. Ya, stimulus prilaku remaja dan anak-anak yang tidak baik di lingkungan sekitar sekolah sangat kuat pengaruhnya pada prilaku siswa-siswi kami. Tampak beberapa prilaku siswa yang terpengaruhi dengan hal itu. Seperti bertingkah ala-ala tawuran, padahal mereka masih SD. Memakai atribut Persebaya. Style rambut yang kurang sopan. Berkata kasar dan tidak sopan dan lain-lain. Sekali lagi kekuatan lingkungan sangat kuat pengaruhnya.

Tentunya hal tersebut menjadi tantangan berat bagi pendidik, mengapa? Karena ketika guru mendidik adab dan akhlaq anak dilingkungan sekolah, namun ketika mereka pulang, dan berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan mereka, mereka akan terpengaruhi. Intensitas interaksi dilingkungan luar, lebih besar daripada intensitas pendidikan karakter di dalam. Karenanya, kami sebagai pendidik menghimbau pada orang tua untuk bekerja sama dalam mendidik anak, luangkan waktu lebih banyak untuk anak-anak anda, hargai mereka, beri perhatian lebih pada mereka, batasi pergaulan mereka, dan satu hal yang paling penting, beri keteladanan pada mereka. Karena tantangan lingkungan sangat kuat, maka pendidikan karakter juga harus lebih diperkokoh.

Sekali lagi, kami tidak bermaksud menyinggung orang, golongan atau organisasi tertentu. Tulisan ini merupakan kegelisahan pada krisis moral yang terjadi di daerah sekitar tempat saya mengajar. Dan belum tentu hal itu terjadi dilingkungan lain.

Salam pendidikan, keep spirit, keep peace and keep loving.

Wassalam.

*Penulis adalah tenaga pendidik sebagai Guru SD Islam Miftahul Ulum Surabaya.

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Kekuatan Lingkungan "Mbonek""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel