Proses Ala Berproses.
March 16, 2018
Add Comment
Proses, Satu persatu dalam kamus bisa sangat mudah menemukan arti persamaan dari kata yang biasa disuguhkan untuk menjahit semangat, kemauan, dan kematangan seseorang yang sedang ingin belajar di samudra tak tenang.
Suatu kesempatan forum silaturrohmi antar angkatan disebuah organisasi, saya beranikan ulang untuk bertanya.
"Apa sebenarnya proses itu mas?"
Usai saya disuruh menyebutkan kata dan makna proses itu dalam kamus, alumni 98 itu mengakhiri dengan jawaban singkat.
"Proses itu adalah Pahit". Dengan tegas beliau menjawab sambil menghubungkan kedua alisnya di sela-sela dahi yang tak lagi bisa lurus kulitnya, berusaha menyakinkan saya yang justru susah yakin dengan makna sesungguhnya.
"Kok bisa mas? Sampai kapan?". Tanyaku cepat.
"Sebelum kamu merasa sakit dengan apa yang kamu lakukan, berarti belum pantas kau disebut berproses. Jika saat sakit saja, kau memilih berhenti untuk melanjutkan disitulah prosesmu juga gagal. Sampai kapan katamu? Haha, sampai kamu tidak merasa bahwa ada sakit dalam melakukan. Ingat lawan terdekat dari sakit adalah kesembuhan, kesembuhan itulah kemenangan". Mas agam kembali menyalakan rokoknya yang mati karena tidak ada nafas yang menyedotnya, iya fokus dengan keterangannya.
"Rasa yang berbeda ngge mas? Bagaimana caranya" Mulai rewel untuk segera menghabiskan puluhan pertanyaan yang tersimpan, sambil menunduk saya siapkan untuk mendengar penjelasannya.
"Panjang mas, tidak banyak yang kuat. Sederhananya begini, wiridmu dalam satu jam bisa mengantarkan keluhan pegel, capek, ngantuk, kram bla bla bla. Coba lanjutkan, iya teruskan sampai tak terasa ada rasa pegal yang mengganggu disitulah 5 jam tidak akan terasa apa apa justru badan, jiwa dan fikiran lebih fresh bertenaga. Kenapa? Karena disitulah kamu dan alam bawah sadarkamu sama sama bergerak atau roh para agamawan menyebutnya. Karena jika fikiranmu mulai berhenti sejak dalam kesadaran itu, roh yang ada dalam alam bawah sadarmu juga akan berhenti. Gimana faham?
"Nggeh mas, yang roh kurang sedikit faham mas?" Kembali pertanyaan tak ingin menyianyiakan kesempatan bergerak di depanku, karena setiap beliau menjelaskan gumam mengiyakan dengan setiap anggukan yang bergerak.
"Orang hidup kan karena ada Rohnya toh? Apa itu roh? Ya gerakanmu itu. Jika orang tak bergerak atau mati kan kita menyebutnya mati, bener toh. Makanya jangan matikan rohnya dengan tidak bergerak dan berproses (sakit), karena jika sudah rohnya hidup dan jiwa, pun alam bawah sadarnya ada rohnya disitulah akan bergerak memerintahkan seluruh komponen tubuh bertenaga super power. Seperti pembisnis jika sudah tau rohnya bisnis, mudah sekali menjalankan dan menggerakkan pasar se-nusantara kalau perlu se antero dunia kayak korekmu yang di beli dari indomart toko dari mancana negara itu, haha. Sadarilah, proses itu sakit yang bergerak. Teruslah bergerak dik". Mas agam menepuk bahu kananku kemudian menghentikan sentuhannya dengan sedikit keras, serasa di pijat tapi bukan, seperti ada getaran arus listrik bertegangan kecil. Iya mungkin pertemuan roh yang bersalaman !
"Ngge mas, terimakasih banyak atas pemahaman berharganya mas. Semoga saya bisa berproses dengan baik dan sukses dunia akhirat"
"Amin". Kompak kami berucap, seperti aminnya sepasang pengantin di depan penghulu, segera ingin bergegas memulai. Hehe
~ Siddiqurrohman abad arz
Sumber: Facebook


0 Response to "Proses Ala Berproses."
Post a Comment