Sastra Medsos Kritik Ibu Sukmawati
April 03, 2018
Add Comment
Geli rasanya mendengarkan ujaran kebencian, melaknat, mengkafirkan, dan menyeret langsung dengan Agama Islam. Saya perhatikan kecaman tersadis keluar dari tokoh-tokoh ustadz / ustadzah itu itu aja lengkap dengan pengikut setianya yang semakin bombastis dikalangan remaja yang mudah baper, kagetan, kagum, dan pecinta medsos.
Saya masih ingat betul, dahulu ustad saya di pesantren pernah mengarang puisi berjudul "malaikat ingusan" dan beberapa karya nyeleneh lainnya. Sampai pada suatu waktu dipanggil kyai (Pengasuh) untuk mempertanyakan maksud dan tujuan puisi itu ditulis. Alhamdulillah seusai pertemuan itu kyai pun menyetujui, dan tidak ada ujaran kebencian dan cacian dari kyai semisal lagsung ambil microphone di masjid kemudian mengkafirkan santrinya.
Di sanggar seni pun, banyak sekali judul dan bait bait kalimat yang nyelenih. Caranya mudah untuk bisa mengerti itu dengan tradisi yang kita punya yaitu, bedah karya atau bincang sastra ada juga namanya Kritik Sastra. Disitulah kita bisa mendalami makna yang dimaksud penulis atau bahkan memberikan kritik dan pandangan lain untuk menguatkan makna, Karena makna puisi mutlak dimiliki oleh penulisnya. Dan itu biasa di praktekkan oleh para seniman lokal, Nasional, bahkan di dunia, tak lupa di arab yang dahulu juga sangat kuat kesusastraannya khususnya pada zaman sahabat dan Rasulullah Muhammad SAW.
Banyak juga saya temukan di grup dan postingan di dinding Facebook saya yang memberi stimulus politik dengan bumbu-bumbu dari pakar editing kecebong. Nah kan?
Kepada Ibu Sukmawati, Terimkasih Puisinya. Benar atau tidaknya makna yang ibu tulis tentu penjelasannya mutlak milik ibu. Namun saya berterimaksih karena dengan begini kami sadar bahwa konsumen sasta di Indonesia mulai punah. Kekhawatiran itu juga pernah disampaikan oleh cak Nun, sampa-sampai cak nun mengusulkan setiap PNS termasuk polisi tentara wajib bisa nulis puisi meskipun hanya satu.
Jauh berbeda dengan konsumen sastra medsos bukan? Dimana sastrawan yang sejatinya bisa jadi tidak sempat main buka media sosial seperti saya.
Islam medsos betul betul melahirkan islam phobia. Islam disakralkan pada teknya saja, padahal kalau dahulu pernah dipesantren begitu sasahnya belajar islam, betapa melaratnya belajar ilmu alat untuk bisa mempejari bacaan dan makna dari kitab-kitab ajaran Agam. Termasuk Al Quran dan Hadist yang mempunyai sastra tinggi, dimana tidak ada satupun sastrawan dunia bisa menandingi karya sastra yang terkandung di ayat ayat Al Quran.
Dari itulah untuk mempelajari AlQuran dan tuntunan ajaran Agama perlu mempelajari ilmu sastra semisal kitab Mantik dll. Apalagi kalau ingin memaknai bacaan Burdah, Sholawat, Majmuk dibak dll sangat dianjurkan menggunakan kaca mata sastra dan keindahan agar para pengarangnya tidak juga tidak dibilang sesat menyesatkan.
Adakah ulama yang pandai bersyair kemudian di seret ke rumah penjara? Banyak. Karena dianggap kafir, menyesatkan, dan juga takut mendapatkan kritikan tajam sebagai ancaman kepada kekuasaannya dengan kata kata sakti berenergi dari sang penakluk kata.
InsyaAllah bisa jadi ibu sukmawati benar tujuannya, hanya saja baitnya memang sedikit mencuit identitas ummat islam (Salah pilihan katanya). Di era medsos ini yang kecil akan jadi besar, biarkanlah kita maafkan. Jika memang sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib, kita serahkan sepenuhnya kepada polisi. Namun tolong hentikan mencaci, menghakimi sepihak, mengkafirkan, apalagi sampai membawa nama Bapak Sukarno dan keluarga lainnya. Ingatlah, yang akan memanfaatkan kekacauan ini sangat banyak menderet dibelakang dan dimuka.
*Siddiqurrohman abad arz


0 Response to "Sastra Medsos Kritik Ibu Sukmawati"
Post a Comment