Indonesia, kita masih menghitung suara.
July 11, 2018
Add Comment
Oleh: Siddiqurrohman Abad Arz*
Masih ingat aktivitas kita dikelas SD-SMA saat pelajaran matematika? Ya, berhitung.
Menghitung angka dengan ratusan rumus? Tanpa ada kejelasan riil buat apa dalam kehidupan sehari-hari, kecuali menambahkan dan mengurangi untuk menemukan hasil. Jelas beda dengan pelajaran biologi, ipa, ips, bahasa indonesia, sejarah, fiqih, aqidah akhlak mudah ditemukan labuh prakteknya.
Masuk ke bangku kuliah. Rumus matematika kembali diulas rumus rumusnya, ditambah lagi dengan rumus rumus pengembangannya. Alhasil, rumus rumus itu disampaikan kembali kepada murid murid nya saat menjadi guru di sekolah SD-SMA. Paradok itu menjadi realitas masyarakat kita bahwa antara pendidik dan yang dididik hanya bisa dan biasa pada pokok hal mengurangi dan menambahkan.
Ironis, Indonesia masih seperti dipembukaan undang-undang, yaitu sebagai cita cita kemerdekaan dipintu gerbang kemerdekaannya. Rakyat Sipil dan Pemerintah tak henti hentinya melulu sibuk membahas kesana kemari tentang SUARA yang dihitungnya. Tak sedikit larut menjadi cekcok, tarik menarik, benci membenci, bahkan fitnah memfitnah. Negara luar, sudah bikin ini itu sedang Indonesia antri terdepan untuk menikmatinya.
Aktivitas berebut suara menjadi padat dalam banyak tindakan, obrolan, dan kepentingan sehari-hari. Warung kopi, pun menjadi tempat membuang sampah kejenuhan dan kekhawatiran terkait jumlah suara pendukungnya, maka tak heran jika sudah tidak fokus sebagai tempat menikmati kopi. Terbilang banyak pula, orang stress, gila, pura-pura tidak gila karena kekhawatiran nya terhadap basis massa mereka sebagai lumbung suara di pemilu akan datang. Lagi lagi kembali berhitung, nambah gak ya, berkurang gak ya. Ah, pasti nambah. Tapii, ah kemungkinan berkurang.
Pernah lihat tempat-tempat hiburan yang senonoh tapi terpelihara oleh aparat keamanan dan pemerintah?, Barang terlarang bisa berlalu lalang dengan mudah dikota dan di desa? PKL yang dibenarkan dan dilindungi saat mempersempit jalan raya? Aktivis yang terjamin perutnya? Pengusaha yang gas pol merampok lahan? Kelompok pengajian yang dapat bingkisan sarung dan kerudung setiap akhir pekan? Jurnalis yang bungkam isu? Pesantren yang megah saat dapat disemprot dana dari luar negeri? Kelompok tani yang menimbun raskin? Tukang becak, gojek, buruh, pengamen yang mempunyai kantor sekretariat organisasi megah? Mahasiswa yang megemis nilai kepada dosen, dan dosen yang merampok uang kampus bersama sama?.
Kesemuanya karena apa? Mereka takut tidak mendapatkan suara banyak untuk kemenangan panggung kekuasaan politiknya bukan? Baik di level RT sampai Presiden, level SD sampai Universitas, level siswa sampai dosen. Jalan ninja yang ditempuh lebih takut kepada suara, bukan kepada hukum, undang-undang, moral, agama, etika, dan kedaulatan Indonesia. Maka, dirawatlah mereka setiap hari agar kelak kantong suara kemenangan tetap aman.
Agama juga kalah dengan suara....
Atas nama Agama, banyak pura pura agamis seketika bukan? Untuk merebut suara orang muslim, foto berpakaian busana muslim sambil senyum, lalu dipercantik wajahnya, ya selesai. Kalau lawan politiknya non muslim, tinggal bilang orang muslim tidak boleh dipimpin oleh kafir, ya selesai. Mengumpulkan tokoh agama, lalu deklarasi, ya selesai. Main ke pesantren, masjid, madrasah, gereja sambil minta list sarana prasana yang dibutuhkan lalu ditempeli uang, ya selesai.
Lebih keras lagi, saling membunuh harkat, martabat, bahkan nyawa sekalipun.
Ditingkat nasional, hari ini poin ini sedang diperagakan oleh orang yang diberi nama, kecebong dan kampret. Aksi aksi mereka sedang memanas di media sosial, sekali ketemu nyawa langsung melayang. Tokoh-tokoh nasional tampil tanpa dosa memperagakan sebutan kepada pendukung lawannya dengan sebutan amoral tersebut pula. Sadis!
Sesama muslim bersaudara...
Jargon ampuh untuk meredam suasana, banyak digunakan oleh pencuri suara yang sedang berlatih menjadi seorang pembohong, munafik, dan tipu-tipu sani-sini. Contoh kasus yang lumrah terjadi sejak puluhan tahun lalu, ormas islam terbesar NU dan Muhammadiyah yang berlandaskan faham aswaja yang fleksibel, moderat, toleran, dan ramah menghadapi islam aliran keras berwajah radikal dan intoleran. Dua kubu tersebut tampak berucap sesama muslim bersaudara saat di khutbah, namun dibelakang mereka beradu kekuatan untuk menguasai panggung kekuatan politik dan negara.
Ditingkatan masyarakat awam, mereka para ajaran garis keras merebut massa dimasjid, musholla, dan majlis pengajian dengan jurus bid'ah yang terlarang, menuduh sesat dan menyesatkan. Ya, berharap basis pindah kecintaan kepadanya. Dipendidikan, masuk lewat menjadi guru, dosen, buku pelajaran, dan berebut menjadi kepala sekolah atau kepala perguruan tinggi/kampus. Di tingkat politik, mereka mendirikan partai politik, masuk ke dinas-dinas, kemudian menjadi DPR, dan Pemerintah pusat untuk menyerang dan mengobrak abrik saudara islam yang ramah dan toleran seperti NU dan Muhammadiyah dengan kendali kekuasaan dari atas, Maka ditahun itu islam aliran perongrong pancasila ini subur dan makmur. Bahkan akhir dari segala usahanya akan merebut kepala pemerintahan untuk merubah sitemnya seperti asal aliran ini berada, yaitu timur tengah.
NU dan Muhammadiyah masih kuat...
Sejauh ini, pemenang masih ditangan NU dan Muhammadiyah yang sejak dulu berjuang untuk menjaga Indonesia dari rongrongan yang memusuhinya. Meskipun tentu sangat memakan tenaga untuk mengatur srategi, hingga juga harus terlibat dimedan politik, dinas, kepala daerah, aparat keamanan, pemerintah pusat, dan berada disekeliling istana. Tanpa kedua ormas tersebut, entah apa jadinya.
Yang berada dibelakang NU dan Muhammadiyah, harus kuat!
Ulama ulama dari kedua ormas tersebut hari ini sedang dibenturkan, berusaha dipecah dengan alat adu domba. Selanjutnya, mereka berusaha agar masyarakat tidak cinta lagi kepada ulama kita itu. Dengan berbagai propaganda yang dilakukan Influencer dan Buzzer. Fitnah dan intemidasi deras memanah ulama kita. Dan, kita memang sedikit kalah di media sosial dan Televisi Nasional. Promosi ulama muda mereka gencar ditampilkan untuk merebut massa, terutama anak muda.
Kembalilah saudaraku. . .
Teruntuk dirimu yang tanpa sadar terhegemone opini islam radikal, kemarilah. Kita belajar kembali lebih dalam kepada ulama dan tokoh2 pahlawan yang nasionalismenya kuat, agar kita juga kuat. Kami siap menjadi teman ngopimu, ini kopi susuku tanpa gula, mana kopimu?
Surabaya, 11 juli 2018.
*Petani Milenial Digital-Content
Yang berada dibelakang NU dan Muhammadiyah, harus kuat!
Ulama ulama dari kedua ormas tersebut hari ini sedang dibenturkan, berusaha dipecah dengan alat adu domba. Selanjutnya, mereka berusaha agar masyarakat tidak cinta lagi kepada ulama kita itu. Dengan berbagai propaganda yang dilakukan Influencer dan Buzzer. Fitnah dan intemidasi deras memanah ulama kita. Dan, kita memang sedikit kalah di media sosial dan Televisi Nasional. Promosi ulama muda mereka gencar ditampilkan untuk merebut massa, terutama anak muda.
Kembalilah saudaraku. . .
Teruntuk dirimu yang tanpa sadar terhegemone opini islam radikal, kemarilah. Kita belajar kembali lebih dalam kepada ulama dan tokoh2 pahlawan yang nasionalismenya kuat, agar kita juga kuat. Kami siap menjadi teman ngopimu, ini kopi susuku tanpa gula, mana kopimu?
Surabaya, 11 juli 2018.
*Petani Milenial Digital-Content

0 Response to "Indonesia, kita masih menghitung suara."
Post a Comment