-->

Menjadi Mahasiswa kalau ikut PMII, lebih menawan tanpa harus rupawan.



Student movement adalah sejarah mahasiswa dimata dunia sekaligus kenangan perjuangan terindah bagi mahasiswa itu sendiri. Kampus memang menjadi pusat trand yang dituju diseluruh helai bumi. Terbukti sejumlah film meraup penonton berjuta juta lewat setting tempat kampus. Di Indonesia sendiri serial drama tentang prikehidupan kampus telah ada pada tahun 1976 dengan judul "Cintaku dikampus biru" yang disutradarai oleh Ami Prijono. Terjadi lautan penonton juga pada tahun 1988 film melegendaris yang disutradarai oleh Asrul sani berjudul gema kampus 66, disusul juga oleh film fenomenal terkait dunia aktivis mahasiswa yang berjudul GIE yang diliris pada tahun 2005 dengan sutradaranya Riri Riza. Diluar negeri ada yang cukup terkenal pada tahun 1998 hingga berjudul "Felicity", di korea ada yang sangat ramai hingga sekarang dengan setting kehidupan kampus yang diliris pada tahun 2016 berjudul "Cheese in the Trap".


Apa kabar kampus?Apa kabar Mahasiswa? Saya merindukan awal awal saya menikmati kehidupan kampus sebagai Mahasiswa. Dimana banyak kejutan berbeda dengan apa yang saya nikmati di sekolah dasar hingga sekolah menengah. Belajar, nugas, olah raga, belajar bahasa asing, teman baru mungkin sudah biasa didapat. Ada banyak perbedaan karena hadirnya beragam organisasi intra dan ekstra kampus, mulai dari berciri hobi, keagamaan, diskusi, penelitian, pendampingan masyarakat dilapangan, jurnalistik, maupun yang lebih komplit dengan beragam konsentrasi seperti diatas lalu disajikan dalam satu organisasi, kita biasanya menyebut organisasi ekstra. 

Organisasi intra dan ekstra sudah saya lalui semua meskipun tentu ada yang sangat berkesan dan menculik hati hingga padanya saya jatuh cinta. Iya,  saya bertemu organisasi ekstra bernama PMII, organisasi tidak berkantor didalam kampus tetapi banyak digemari oleh mahasiswa kampus. Alasan singkatnya, seabrek ilmu dan pengalaman bisa diakses lebih luas diluar dimana tidak saya temukan dibangku kuliah.

Ada nilai lebih mudah didapatkan, apalagi jejaring aktivis PMII tersebar hampir diseluruh kampus di Indonesia, dan banyak profesi yang sudah diperankan alumninya sedari dulu, hanya cukup membawa nama PMII semua mudah didapat. Di PMII ada penyambung keakraban yang menghipnotis, yaitu saling memanggil sahabat antar anggota. 

Saat itu,  teman teman yang ikut organisasi intra kampus banyak ikut doble organisasi dengan ekstra kampus. Selain karena trand mahasiswa super sibuk, biasanya didasari karena dari sudut pembacaan mahasiswa organisatoris kepada mereka yang ikut organisasi ekstra yaitu mudah dapat perhatian dan jabatan tinggi distruktural organisasi intra, kabarnya karena  kemampuan sang aktivis ektra ini bisa diatas rata rata dibanding mahasiswa yang hanya ikut intra.

PMII yang saya kenal.

Di PMII ada Istilah kaderisasi, karena kesadarannya fokus melahirkan generasi terbaiknya setiap dekade. Matematika kaderisasi PMII sangat rasional, mudah membawa perasaan pada fakta fakta mutualisme generasi muda. Adapun hati yang mudah rapuh seketika akan enteng bangkit lagi oleh perlawanan logika pada harapan nyata seorang insan yang semangat membawa perubahan. PMII adalah obat yang mengandung ramuan energik pada mental-mental yang keok dimedan perasaan. Obat - obat penambah stamina akan kesuksesan masa depan, bukan hanya untuk hari ini, bukan juga sekedar menetap diobrolan warung kopi. Kebaikan PMII pada pertumbuhan harapan dan pengalaman saya tidak bisa diurai dengan kata-kata. Kata-kata hancur berkeping keping saat kucoba ungkapkan cinta padanya. Assekk hehe.  Iya, ada beberapa hal yang saya rasakan waktu itu, seperti berikut:

1. Mutualisme Cara Pandang. 

Selain akan menemukan teman baru, ada hal yang cukup tipis berbeda sedang terjadi pada situasi sosial seorang aktivis organisasi yaitu cara pandang. Cukup tipis tapi vital, layaknya silet yang tajamSeorang aktivis PMII tentu akan mendapatkan cara pandang yang luas, banyak menangkap kondisi dan situasi bermanfaat untuk menjadi pengalaman baik bagi kondisi sempit yang kerap membutuhkan solusi. Ibarat mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas nepi di kos kosan dengan yang mengerjakannya di perpustakaan kampus, cara pandang menyelesaikan tugas akan lebih luas dengan banyaknya ragam pilihan buku diperpustaan, apalagi suasana bersih dan sejuk ber AC tentu akan mendayuh semangat.

Nah, pentingnya cara pandang ternyata tidak bisa disepelekan oleh karena menjadi dasar seseorang dalam menumbuhkan polafikir positif dan optimis kemudian berkembang menjadi sikap dalam mengambil tindakan yang objektif dan progresif. 

2. Mutualisme Opini dan Ideologi. 

Lingkungan akan menciptakan sebuah opini hegemonik yang sangat mungkin digerakan oleh seseorang ataupun kepentingan kelompok tertentu untuk menggiring seorang mahasiswa melalui opini yang diciptanya. Lebih berbahaya lagi jika ada sebuah kepentingan rapi menuju ideologi ekstrem tertentu yang siap mengikat fikiran, hati dan tindakan kita untuk mengikuti misionarisnya. Katakanlah ideologi terlarang berjenis radikal dan intoleran yang dengan serius sedari dulu ingin mengganti ideologi negara dengan sistem baru yang membawa lebih banyak keburukan, sebut saja khilafah yang berdih ajaran islam. 

Meskipun sudah dibubarkan organisasi yang mempunyai ideologi terlarang itu oleh banyak negara namun gerakannya masih berkeliaran mencari mangsa dengan wajah baru, model baru, cara halus baru, dan lain sebagainya. Peranakan nama mereka terus diproduksi untuk bisa masuk ke ruas ruas seluruh lingkungan masyarakat.

Sejumlah data banyak ditemukan oleh para pakar dilembaga survie terpercaya. Seperti data terbaru yang dikeluarkan oleh The Wahid Foundation bahwa Potensi Intoleransi Muslim RI Meningkat, Projihad Keras 13% dari sebesar 51,0 persen menjadi 57,1 persen Lewat survei nasional dengan 1.500 responden. Dengan tran sikap radikal dan intoleran dibidang sosial keagamaan yang ramai diperbincangkan dan menyebar ramai dimedia sosial.

BNPT tahun 2017 memperlihatkan 39% mahasiswa di 15 provinsi tertarik pada paham radikal.Sementara pada bulan Agustus 2017, Wahid Institute menyebutkan 11 juta orang bersedia melakukan tindakan radikal, 0,4% penduduk Indonesia pernah bertindak radikal dan 7,7% mau bertindak radikal jika memungkinkan. (sumber, bbcnews.com).

Angka angka diatas cukup menyeramkan bukan? Tentu data data diatas bisa dipertanggungjawabkan dan kemungkinan kesalahan cukup kecil yang terpenting ini ada himbauan kewaspadaan. Kenapa masyarakat kampus menjadi lahan terbesar berkembangnya ideologi berbahaya tersebut? Pertanyaan serius tapi biar tidak pening bisa difikir sambil nyeruput kopi. 

Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Jenderal Polisi Budi Gunawan menyatakan, sebanyak 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal. Dan Bapak Budi menyebutkan bahwa dari hasil penyidikan aksi teror semakin menegaskan kampus tempat tumbuh dan berkembang paham radikal yang kemudian menumbuhkan bibit teroris baru.

Nah sederhana nya seperti ini, Mahasiswa lebih diyakini mempunyai power besar untuk digerakkan dan menggerakkan diseluruh kelas sosial. Oleh karena ada penambahan kata Maha pada anak muda yang usai menjadi siswa dibanding banyak profesi lainnya, maka disebutkan bahwa Mahasiswa harapan masa depan bangsa dan negara.

Dan Mangsa yang renyah dan mudah didapat adalah mahasiswa baru. Yang sedang membawa segudang rasa keingintahuan pada hal baru, obsesi dan ketertarikan pada hal-hal menantang. Awalnya ingin coba coba, mulai tertarik kemudian terpikat tanpa tau dalam kondisi tersesat ditengah jalan. Jika sudah terpikat  ........  Terasa coklat, kata pujangga.

Oleh karena itu, saya menemukan rasa aman tentang ideologi itu di PMII meskipun sangat dinamis dalam memberikan ruang bebas belajar macam ideologi dunia lainnya yang sedang berkembang. Namun, manhajul fikr yang dimiliki oleh PMII bisa menjadi senjata kuat sekaligus teman akrab  dan bijak saat berkelana dibelantara tolabul ilmu. Lainnya, kita bisa mengidentifikasi strategi penyebaran ideologi berbahaya itu sekaligus mencari alat untuk menangkalnya. Itulah yang saya dapatkan di PMII dari kakak kakak senior yang menyampaikan materi didiskusi rutin kami.

3. Aswaja Design ala PMII

Ahlussunnah wal jamaah sebagai sebuah faham ideolis keberagamaan ummat islam di dunia yang diyakini kebenarannya atas tafsir pada sabda nabi saat menyampaikan legitimasi golongan yang dibenarkan oleh Nabi Muhammad dari 72 macam golongan ummat islam pada zaman itu. Namun tentu ada perbedaan dalam sajiannya dengan aswaja yang dipakai oleh NU dan Muhammadiyah. Takaran yang pas dan cocok buat mahasiswa untuk bisa belajar dan memahami aswaja dengan sajian yang modern dan dinamis.

Nah di PMII sendiri aswaja diposisikan sebagai manhajul fikr atau Motodologi berfikir. Artinya ada kombinasi dalam dunia akademik mahasiswa, dimana mahasiswa bisa lebih berperan aktif dalam mendalami pengetahuan akademiknya dengan metode metode yang dimiliki oleh aswaja yang lebih ilmiah dan modern. Kemudian seorang mahasiswa dituntut untuk bisa optimasi dalam tindakan maupun gerakan pengabdian pada bangsa dan negara dengan metode koorperatif ala aswaja PMII.

Keberpihakam kepada orang lain dan kemanusian adalah objek diskusi aswaja PMII maka disinilah lahir beragam seruan untuk bisa mendalami 4 metode aswaja dengan pengetahuan sejenis, buku sejenis, dan tokoh sejenis, misalkan pengetahuan tentang filsafat, ilmu psikologi, ilmu komunikasi, ilmu gender, ilmu analisis sosial, buku kiri, literatur agama islam, tokoh gerakan dunia, dll. 

Ada 4 nilai atau metodologi aswaja yang menjadi acuan aktivis PMII:
1. Moderat  (Tawassuth) 
2. Toleran (Tasamuh) 
3. Seimbang/Integritas  (Tawazun) 
4. Keadilan/Netral / Amar makruf Nahi mungkar (Al Adlu) 

Tentu 4 hal diatas sangat selaras dengan tujuan organisasi PMII yang ada dalam Bab 4 Pasal 4 yang berbunyi : Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertagwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita cita kemerdekaan Indonesia. 

Itulah kesempurnaan ruang belajar PMII meskipun saya masih belum sepenuhnya bisa menggapai hingga sekarang. Maka bisa saya simpulkan grand desain objek  umumnya bahwa PMII adalah organisasi mahasiswa yang fokus dalam diskursus kemahasiswaan, keagamaan, keindonesiaan, dan kemasyarakatan.

PMII cukup serius mencanangkan harapan besarnya untuk melahirkan generasi muda yang progresif memikirkan prestasi masa depanya dan berkarya untuk bangsa dan negara. Terlihat jelas pula dari format proses juang organisasi ini yaitu, Tri motto: Dzikir, Fikir, dan Amal soleh, Tri Komimen : Kejujuran, kebenaran, dan keadilan, Tri Khidmat: Tagwa, Intelektualitas, Profesionalitas, Eka citra diri PMII: Kader Ulul Albal. 

Benar benar tak sanggup kuurui kebaikanmu PMII, pena ini tak mampu. Ya, Mungkin sambil ngopi akan terus saya sematkan namamu dalam obrolan obrolan kecil malam dan siangku. Benar benar mempesona ramuan cintamu dengan dalil dalil membius keseriusan belajar kami dengan kesederhanaan yang berkualitas.

Meskipun ada kondisi tertentu sedikit saya sesalkan, tepatnya insiden itu terjadi saat awal ingin gabung PMII yaitu terlalu banyak pertimbangan. Sehingga banyak kesempatan yang terbuang dibanding apa yang didapat teman seangkatan saya yang lebih dulu ikut PMII, ya meskipun hanya selisih 3 bulan dengan saya. Tapi tak apalah, syukur hanya dengan nama sederhana PMII, banyak hal diatas bisa mudah saya dapatkan untuk bekal masa depan.

NB: Segala kekurangan saya mohon maaf karena sekedar sharing pengalaman tentang PMII, tentu PMII lebih sempurna dan keren dibanding dengan apa yang baru secuil saya tau. 

Siddiqurrohman abad arz, 
Penikmat ngopi kaderisasi PMII Surabaya .

Surabaya, 08 Agustus 2018.

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Menjadi Mahasiswa kalau ikut PMII, lebih menawan tanpa harus rupawan. "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel