-->

Asa Harmonisasi Jokowi


Oleh Ach. Taufiqil Aziz*

Apakah saat Jokowi misalnya kembali mendapatkan mandat rakyat menjadi presiden, ruang
publik yang manusiawi dapat diwujudkan? Ini tanya awal yang berusaha saya bedah dalam
kaitan dengan masa Depan Indonesia. Danny JA memberikan pilihan antara Ruang Publik
Manusiawi atau NKRI Syariah.

Pada tulisan tulisan sebelumnya yang tersebar di media cetak dan online, saya tidak sepakat
dengan NKRI Syariah. Walau misalnya S1 saya jurusan Ekonomi Syari’ah, tetapi terlalu utopis
dan egois manakala umat Islam harus mendesakkan NKRI Syari’ah.

Tentu kita muncul asa akan adanya ruang publik yang manusiawi. Asa ini mau tidak mau juga
akan digantungkan kepada pimpinan negara. Karena tentu bagaimanapun, seorang pemimpin
memiliki pengaruh penting untuk dapat menciptakan ruang ruang manusiawi bagi warganya.

Pada sisi ini menarik untuk kita membedah tentang sosok Jokowi dan Kiai Ma’ruf dalam konteks
dan tanya yang khusus tentang paslon ini dalam mewujudkan ruang publik yang manusiawi. Dua
sosok yang menyatu ini adalah nyawa nasionalisme dan spirit releguisitas.

Basis Ideologis

Di Jawa Timur, viral video Kiai Haji Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur, ajakan
untuk memilih presiden yang memperjuangkan Ahlu Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Paslon yang
tampaknya paling memperjuangkan aswaja layak untuk didukung.

Pada kesempatan yang lain, saat Haul Muassis NU Sumenep, Kiai Marzuki menyampaikan
bahwa motif berdirinya NU adalah perlawanan terhadap Wahaabi. Sisi lainnya adalah NU yang
terus dan harus membela Islam dan NKRI. Karena Wahabilah yang berusaha merusak agama dan
negara.

Saat melihat video itu, dengan sedikit menduga saja, sudah bisa ketebak maksud Kiai Marzuki.
Yakni arahnya sudah ke Jokowi Kiai Makruf Amin. Sementara pada posisi lawan banyak
didukung oleh kelompok yang memang menjadi lawan NU. Termasuk kelompok yang juga tidak
mau terhadap negara.

Di balik paslon lain, terdapat eks HTI yang memang tidak mau terhadap Jokowi dan memusuhi
NU sejak dulu. Pertanyaannya lalu, apa konsekuensi saat Jokowi dan Kiai Ma’ruf menjadi
presiden? Apakah akan memunculkan kemenangan terhadap NU juga? Tunggu dulu.

Jika dijawab dengan kerangka jejak historis perjalanan NU dalam lingkup sejarah Indonesia,
maka akan ambivalen. NU pernah di telikung oleh elite elite masyumi, dipinggirkan dalam PPP saat orde baru, dan juga dipinggirkan oleh rezim orde baru. Hanya saat Gus Dur, bisa melepas
dahaga dan bisa membuat kader NU bisa masuk dan berperan dalam negara.

Namun jikwa jawabannya adalah kerangka ideologis, maka Jokowi dan Kiai Ma’ruf adalah
pilihan tepat. Jokowi adalah kader PDIP. Secara idoelogis adalah marhaenisme. Sosok marhein
adalah wong cilik. Seorang petani yang bagi Soekarno menjadi infpirasi dari meruwat
ideologinya.

Kiai Makruf adalah sosok religious dengan latar ideology aswaja. Rumusan aswaja yang ada di
dalam dirinya, memiliki pengakuan yang utuh terhadap Pancasila dan NKRI. Aswaja dalam diri
Kiai Ma’ruf adalah aswaja dalam spirit Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Saat spirit negara dan
agama menjadi sesuatu yang tidak perlu dinegasikan.

Soekarno dan Hadratus Syaikh adalah sosok penting untuk kemerdekaan Indonesia. Adalah
Hadratus syaikh yang mencetus resolusi jihad. Di mana memiliki konsekuensi, bahwa orang
Islam wajib membela negaranya. Mati karena membela negara digolongkan dengan mati syahid.

Nasionalisme dan relegisitas menyatu dalam paslon 01. Apakah ini menjadi modal utama untuk
melahirkan ruang public yang manusiawi? Apa replica ideal ruang publik yang manusiawi?

Ruang public yang manusiawi adalah suatu kondisi saat kita bisa menjalankan nilai agama
dengan bebas dan tanpa intervensi dari negara. Ruang public yang manusiawi adalah saat
kemanusiaan dan keadilan menjadi salah satu prasyarat penting yang harus diwujudkan.

Dengan basis ideologis masing masing, tampaknya Jokowi memiliki kemampuan untuk bisa
melaksanakan dan mengimplementasikan ruang public yang manusiawi. Lantaran basis
dukungan yang ada di belakangnya adalah kelompok yang moderat yang memiliki spirit
nasionelisme dan religuisitas.

Bagaimana cara yakin bahwa di masa depan Jokowi dan Kiai Makruf dapat
mengimplementasikan ruang public yang manusiawi? Tampaknya untuk melihat masa depan,
perlu untuk memperoleh gambaran tentang masa lalu.

Jejak Jokowi dan Asa Rakyat

Pada masa Jokowi, HTI sebagai ormas dilarang. HTI adalah organisasi yang anti negara.
Gagasannya mendirikan khilafah. Di berbagai negara berhasil mencipta kekacauan. Labeling
agama menjadi salah satu mainan untuk merebut kekuasaan.

Bisa dikatakan, bahwa HTI dan ormas sejenis yang telah membuat gaduh republic ini. Saat
berupaya mendirikan Khilafah, pada sisi lain, HTI telah merobek kebhinekaan. Tidak hanya
untuk warga negara. Tetapi juga untuk umat Islam.

Disinilah Jokowi tampil dengan berani. Sikapnya tegas. Membubarkan ormas yang nyata nyata
akan mengancam terhadap keberadaan NKRI. Jejak inilah yang telah membuat asa atas Jokowi
kian besar. Karena rakyat tentu sudah bisa merasakan jejak dan keberanian Jokowi dalam
melarang ormas HTI.

Pada saat inilah, Jokowi telah beruapaya melindungi kemanusiaan dari ancaman HTI. Di sinilah
tanpa sadar, Jokowi telah menjalankan salah satu tujuan dari maqasidus Syariah. Hifdun Nafs.
Yakni melindungi Jiwa.

Saat HTI dibubarkan, ketika itu pula Jokowi terus bekerja. Jokowi membangun infrastruktur
yang menjadi salah satu sarana untuk menyatukan Indonesia. Dalam salah satu pidatonya,
Jokowi ingin sekali mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia.

Keadilan adalah prasyarat utama dalam mewujudkan langkah atas adanya ruang public yang
manusiawi. Saat masyarakat merasa adil dan negara hadir untuk menyelesaikan berbagai
persoalan, saat itu pula, asa Rakyat terhadap Jokowi kian besar.

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa ruang public yang manusiawi hanya dapat diwujudkan
dengna memilih Jokowi dan Kiai Makruf Amin.

*Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Madura. S1 Jurusan Ekonomi Syariah. S2 Jurusan
Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Asa Harmonisasi Jokowi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel