-->

Salah siapa? Salahku, salahmu, atau salah kita semua.



Oleh : Biyan Muzakki

Tujuh puluh tiga tahun kita merdeka, dengan beban begitu sarat bangsa ini dipaksa menuju kemerdekaanya.
Adakah hal yang layak yang bisa menukar narasi kemerdekaan?

Dalih kekuasaan berbicara tak disiplin, siasatnya seperti bulus dan tak mengenal air mata, pedih, sakit, tapi itu lah kenyataannya.
Sembilan belas enam puluh tujuh, seorang negarawan di jatuhkan dan di khinati oleh seorang jendral, cukup memilukan, tapi sejarah tak tinggal diam ia waspada dan mencatat semua kejadian itu dengan sangat teliti.

Tiga puluh dua tahun bangsa ini hidup di bawah kaki kekuasaan yang otoriter, mulut di bungkam dan dipaksa menjadi bisu dan peluru tak bertuan mengusai nyawa manusia, entahlah..

lagi-lagi ingatan itu masih membekas dan sejarah juga tidak melupakan semua itu.
Sembilan belas sembilan depan militerisme lupuh di tangan perjuangan, biarpun tangan itu harus menggenggam bara api tapi cita-cita bangsa harus di wujudkan dan lagi-lagi sejarah mencatat semua narasi itu.

Sembilan belas sembilan sembilan, di tangan kekuasaan orba seorang mentri BJ Habibi lulusan Jerman di angkat untuk menggantikan posisinya sebagai presiden, semua tak terlepas dari tangan kediktatoran orba, ide-ide berlian yang menjadi gagasannya untuk bangsa ini tetap harus ada di bawah komando kekuasaan orba, tapi nasib baik tidak berada di tangannya, hingga ia hanya menjabat selama satu setengah tahun.

Setelah pemilu sembilan belas sembilan satu, Abdur Rahman Wahid atau Gus Dur terpilih menjadi Presiden ke-4 yang secara langsung di pilih melalui Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR), ia adalah seorang yang terlahir dari pesantren di Jombang dan cicit salah satu pendiri Ormas keagamaan terbesar di Indonesia, latar belakangnya sebagi santri sangat mempengaruhi kehidupannya, dari kesederhan dan sikapnya yang egaliter dalam memandang sesuatu, ia menjadi tokoh besar dan sekaligus negarawan setelah ia di nobatkan sebagai bapak pluralisme dan pengayom keberagaman di Indonesia, sungguh luar biasa. di tengah-tengah masa menjabatnya sebagai Presiden ia harus di kudeta, dan sejarah buruk kembali berulang oleh nasib seorang tokoh besar bangsa, tepatnya tiga puluh enam tahun setelah di lengsernya bapak proklamator.

Ia hadir di tengah-tengah banyak minoritas yang ketakutan, ia hadir memberi minum di tengah-tengah orang yang kehausan, dan ia juga hadir sebagai punggung untuk menopang kerukunan umat beragama. Banyak yang ia ajarkan kepada kita, dan orang lain menghianatinya karena sebuah abisi kekuasaan yang temporer.
Salahku? salahmu? Atau salah kita semua?

Lamongan, 05/07/19

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Salah siapa? Salahku, salahmu, atau salah kita semua."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel