-->

Artikel Ketua Komisariat UNESA Surabaya

MENELANJANGI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Alfain Basuseh*

Berbicara mengenai dunia pendidikan di Indonesia, maka kita akan menemukan suatu sisi dimana pendidikan kita berada pada posisi yang belum sempurna. Menurut pandangan penulis, pendidikan kita saat ini hanya berorientasi pada standar pengakuan dunia. Tren paradigma pendidikan saat ini adalah standarisme,  yaitu suatu rujukan dari segala praktik pendidikan. Namun faktanya, cita keajegan manusia yang terstandar menjadi penyebab kemerosotan. Alur pikir yang dianggap baik, malah menjebak pada tindak penghancuran sesama manusia.
Mengambil sebuah contoh tentang Ujian Nasional (Unas), menurut pandangan penulis  Unas hanya menciptakan irrasionalitas masal, menjauhkan diri untuk menuntut ilmu kemanusiaan dan membuat kelas-kelas sosial. Unas senyatanya sama sekali tidak memberikan sumbangsih bagi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pun pula dengan fenomena yang akhir-akhir ini terjadi. Beberapa gerakan sporadis, radikal dan intoleran justru merasuki dunia pendidikan Indonesia. Hal ini sangat membahayakan posisi Indonesia di masa yang akan datang. Jika gerakan-gerakan tak segera dibersihkan dari dunia pendidikan di Indonesia, penulis khawatir bahwa keutuhan bangsa ini tak bisa bertahan lama.
Kemajuan teknologi yang menyebabkan berkembang pesatnya media pembelajaran justru tak mampu dimanfaatkan oleh dunia pendidikan Indonesia. Pun juga dengan media massa yang seharusnya menjadi tempat edukasi bagi masyarakat justru memberikan hegemoni yang berpihak pada kapitalis pemilik media dan mengancam integrasi bangsa.

Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.
Ki Hajar membedakan antara sistem “pengajaran” dan “pendidikan”. Menurutnya, pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir, mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Dalam arti luas, maksud pendidikan dan pengajaran adalah bagaimana memerdekakan (mendewasakan dan menjunjung tinggi nilai-nilai hidup bersama) manusia sebagai anggota dari sebuah persatuan (rakyat). Oleh karena itu, setiap orang merdeka harus memperhatikan dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia hidup.
Pendidikan yang sebenarnya adalah bersifat mengasuh, melindungi, dan meneladani. Maka, untuk dapat mencapai ini perlulah ketetapan pikiran dan batin yang akan menentukan kualitas seseorang sehingga rasa mantap tersebut dapat tercapai.
Dari uraian di atas, dapat ditarik benang merah bahwa makna kata pendidikan jauh lebih luas dari pada pengajaran. Karena pendidikan di dalamnya mencakup manusia seutuhnya, baik itu pendidikan intelektual, moralitas (nilai-nilai), dan budi pekerti. Maka, pendidikan di sini beralaskan garis hidup bangsanya dan diimplementasikan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat Negara dan rakyatnya agar dapat bekerja bersama-sama dengan bangsa lain demi kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.

Paradigma yang Harus Dibangun
Melihat persoalan dan fakta yang ada, penulis merasa Indonesia saat ini kekurangan pedagog yang memihak umat manusia. Sudah sekian lama, Indonesia hanya sibuk mengurus instrumen atau standar tertentu, namun menyisihkan karakter, kualitas akal budi dan kekuatan moral. Sulit menemukan pemikir pendidikan yang berani mempertanyakan mitos kependidikan.
Inilah saatnya, harus ada para pemberani yang turut dalam demitologisasi atau membongkar prosesi pembangunan mitos pendidikan Indonesia. Tidak ada alasan, selain menghentikan standarisasi pendidikan yang berbasis pada hitungan-hitungan formal tapi lalai akan karakter dan moral.
Perlu adanya pembaruan paradigma pendidikan. Tidak ada banyak waktu demi kemaslahatan seluruh rakyat, untuk segera menata kembali kebijakan pendidikan agar melampaui jenjang-jenjang sosial dan segala tindak yang anti kemanusiaan.
Sebagai penutup gagasan ini bahwa, Indonesia memerlukan pembaharu yang berkemajuan, pedagog kritis dan para begawan pendidikan yang peduli kepada seluruh rakyat demi kemajuan bangsa dan negara.

*Penulis adalah ketua Pengurus Komisariat Cabang Surabaya.
Sumber: pmiiunesa.com/2017/05/02/menelanjangi-pendidikan-indonesia/

CARA MUDAH UPDATE POSTINGAN:

0 Response to "Artikel Ketua Komisariat UNESA Surabaya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel