Artikel Ketua Komisariat UNESA Surabaya
May 03, 2017
Add Comment
MENELANJANGI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Oleh : Alfain Basuseh*
Berbicara mengenai dunia pendidikan di Indonesia, maka kita akan menemukan
suatu sisi dimana pendidikan kita berada pada posisi yang belum sempurna.
Menurut pandangan penulis, pendidikan kita saat ini hanya berorientasi pada
standar pengakuan dunia. Tren paradigma pendidikan saat ini adalah standarisme,
yaitu suatu rujukan dari segala praktik pendidikan. Namun faktanya, cita
keajegan manusia yang terstandar menjadi penyebab kemerosotan. Alur pikir yang
dianggap baik, malah menjebak pada tindak penghancuran sesama manusia.
Mengambil sebuah contoh tentang Ujian Nasional (Unas), menurut pandangan
penulis Unas hanya menciptakan irrasionalitas masal, menjauhkan diri
untuk menuntut ilmu kemanusiaan dan membuat kelas-kelas sosial. Unas senyatanya
sama sekali tidak memberikan sumbangsih bagi upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Pun pula dengan fenomena yang akhir-akhir ini terjadi. Beberapa gerakan
sporadis, radikal dan intoleran justru merasuki dunia pendidikan Indonesia. Hal
ini sangat membahayakan posisi Indonesia di masa yang akan datang. Jika
gerakan-gerakan tak segera dibersihkan dari dunia pendidikan di Indonesia,
penulis khawatir bahwa keutuhan bangsa ini tak bisa bertahan lama.
Kemajuan teknologi yang menyebabkan berkembang pesatnya media pembelajaran
justru tak mampu dimanfaatkan oleh dunia pendidikan Indonesia. Pun juga dengan
media massa yang seharusnya menjadi tempat edukasi bagi masyarakat justru
memberikan hegemoni yang berpihak pada kapitalis pemilik media dan mengancam
integrasi bangsa.
Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada
sisi kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu
cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan
semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu
daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau
mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya
akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.
Ki Hajar membedakan antara sistem “pengajaran” dan “pendidikan”.
Menurutnya, pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah
(kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia
dari aspek hidup batin (otonomi berpikir, mengambil keputusan, martabat,
mentalitas demokratik). Dalam arti luas, maksud pendidikan dan pengajaran
adalah bagaimana memerdekakan (mendewasakan dan menjunjung tinggi nilai-nilai
hidup bersama) manusia sebagai anggota dari sebuah persatuan (rakyat). Oleh
karena itu, setiap orang merdeka harus memperhatikan dan bisa menyesuaikan diri
dengan lingkungan dimana ia hidup.
Pendidikan yang sebenarnya adalah bersifat mengasuh, melindungi, dan
meneladani. Maka, untuk dapat mencapai ini perlulah ketetapan pikiran dan batin
yang akan menentukan kualitas seseorang sehingga rasa mantap tersebut dapat
tercapai.
Dari uraian di atas, dapat ditarik benang merah bahwa makna kata pendidikan
jauh lebih luas dari pada pengajaran. Karena pendidikan di dalamnya mencakup
manusia seutuhnya, baik itu pendidikan intelektual, moralitas (nilai-nilai),
dan budi pekerti. Maka, pendidikan di sini beralaskan garis hidup bangsanya dan
diimplementasikan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat
Negara dan rakyatnya agar dapat bekerja bersama-sama dengan bangsa lain demi
kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.
Paradigma yang Harus Dibangun
Melihat persoalan dan fakta yang ada, penulis merasa Indonesia saat ini
kekurangan pedagog yang memihak umat manusia. Sudah sekian lama, Indonesia
hanya sibuk mengurus instrumen atau standar tertentu, namun menyisihkan
karakter, kualitas akal budi dan kekuatan moral. Sulit menemukan pemikir
pendidikan yang berani mempertanyakan mitos kependidikan.
Inilah saatnya, harus ada para pemberani yang turut dalam demitologisasi
atau membongkar prosesi pembangunan mitos pendidikan Indonesia. Tidak ada
alasan, selain menghentikan standarisasi pendidikan yang berbasis pada
hitungan-hitungan formal tapi lalai akan karakter dan moral.
Perlu adanya pembaruan paradigma pendidikan. Tidak ada banyak waktu demi
kemaslahatan seluruh rakyat, untuk segera menata kembali kebijakan pendidikan
agar melampaui jenjang-jenjang sosial dan segala tindak yang anti kemanusiaan.
Sebagai penutup gagasan ini bahwa, Indonesia memerlukan pembaharu yang
berkemajuan, pedagog kritis dan para begawan pendidikan yang peduli kepada
seluruh rakyat demi kemajuan bangsa dan negara.
*Penulis adalah ketua Pengurus Komisariat Cabang Surabaya.
Sumber: pmiiunesa.com/2017/05/02/menelanjangi-pendidikan-indonesia/

0 Response to "Artikel Ketua Komisariat UNESA Surabaya"
Post a Comment