Surat Hujan Kepada Lumpur
November 08, 2017
Add Comment
Puisi Siddiqurrohman abad arz
Takbir sore ini menyuburkan benih pelangi bersama bilasan hujan pertama.
Gemericik renyah dengan tariannya.
Air berjalan lirih menghampiri lumpur dalam demamnya.
Kulihat dia erat berpelukan layaknya pertemuan sahabat lama tak ingin ditinggal jauh lagi.
Angin menyibak pelan mataku, kemudian ia memperlihatkan hamparan lumpur berkarat lainnya.
Amboy, teriakan sengit meronta diberbagai ruas negeri ini.
Lumpurku sudah sekian lama tak terjamah lincah gaya petani
dan senyum embun pembajak yang selalu romantis dengan istrinya disawah
Telunjuknya tertahan tegak Kepada tongkrongan kaum politisi, pengusaha dan kaum perkotaan yang membuat sawah ini sepi.
Kumendekat, kicau burung ketti' tak lagi merdu.
Tak se syahdu alunan lirik dan melodi.
Mereka berlarian dengan raut kebencian seolah bertemu musuh.
Sepertinya mereka masih trauma dengan padi yang beracun oleh kemih cairan pabrik.
Hujan yang hanya sesaat tak mampu membebaskan hasrat yang sekian lama tersesat.
Lumpurku kembali menangis di pangkuan batu kusam itu.
Disampingnya gedung gedung mentereng telah mengubur temen temannya.
Zaman telah menyulap tempat teduh lumpur menjadi kuburan.
Tak lagi mampu terpendam isak tangisnya.
Detik detik kematiannya sudah semakin mendekat.
Kontraktor dan tangan kapitalis akan segera menghabisi nyawanya.
Malam datang, lumpurpun pekat bersama hujan.
Surabaya, 08/11/2015
0 Response to "Surat Hujan Kepada Lumpur"
Post a Comment